Tikus Ini Kebal Sengatan Kalajengking

  Selasa, 12 Maret 2019

yesnetijen.web.id - Sengatan kalajengking Arizona sungguh menyakitkan. Orang menganggap rasanya sama saja seperti dipukul martil. Namun spesies tikus gurun Southern grasshopper (Onychomys torridus) ternyata tak merasakan apa pun saat disengat serangga itu. Karena kebal sengatan dan racunnya, tikus itu pun tenang saja melahap kalajengking Arizona (Centruroides sculpturatus).

Tikus berukuran sekitar 12 sentimeter ini tergolong hewan karnivora, dan kalajengking adalah menu favorit mereka. Sengatan kalajengking Arizona sebenarnya mampu membunuh hewan pengerat lain dengan ukuran tubuh yang sama dengan Southern grasshopper. Namun tikus Southern grasshopper mengembangkan teknik efektif untuk mengatasi rasa sakit dan racun kalajengking.

Ashlee Rowe, peneliti dari Michigan State University, mengatakan tikus tersebut sanggup menerima sengatan sebanyak apa pun saat mereka menyerang kalajengking. Tikus-tikus itu tidak hanya bertahan hidup melawan racun kalajengking, tapi tenyata tak merasakan sama sekali sengatan yang mereka terima.

Penasaran dengan trik tikus menghilangkan rasa sakit akibat sengatan, Rowe dan koleganya menganalisis bagaimana sebenarnya racun itu beraksi pada sel saraf nociceptor. Ini adalah sel yang menerima dan meneruskan sinyal rasa sakit ke otak tikus. "Saya penasaran ketika tikus itu disengat, mereka hanya seperti menyisiri sejenak dan setelah itu selesai," kata Rowe kepada LiveScience.

Biasanya sel saraf menyalurkan rasa sakit dengan mengubah stimulan menjadi gelombang eletrik. Kanal ion, saluran kecil dalam membran sel, membuka dan menutup untuk mengirimkan gelombang elektrik tersebut. Salah satu kanal ion, kanal potasium/sodium, ada di sel di seluruh tubuh. Kanal inilah yang mengoperasikan fungsi penting tubuh, mulai dari bernapas hingga kontraksi otot.

Pada umumnya, racun kalajengking bereaksi langsung di kanal potasium/sodium di niciceptor dan menciptakan sensasi rasa sakit. Kanal khusus 1.7 berperan untuk mengambil sinyal rasa sakit, sementara kanal 1.8 mengirimnya ke otak. Namun, pada tikus Southern grasshopper, racun kalajengking langsung diikat di kanal 1.8.

Dengan diikat di kanal transportasi, toksin otomatis mengeblok dirinya sendiri dan tikus tidak merasakan sakit. Alih-alih bertindak sebagai stimulan rasa nyeri, toksin itu justru beraksi seperti obat penahan sakit. "Ini seperti aksi memotong kabel penghubung," kata Rowe. Hasil studi Rowe dan kawan-kawannya dimuat dalam jurnal Science 25 Oktober lalu. "Toksin melakukan hal menarik pada kanal-kanal itu. Mereka membuka dan menutupnya serta memanipulasi dengan cara-cara yang tidak pernah kita bayangkan," kata Rowe.

Penelitian ini menjadi pendukung usaha mencari cara untuk mendapatkan metode baru meredakan rasa sakit pada manusia. "Kami menemukan hal penting tentang manfaat kanal sodium 1.8 dan kemampuannya menutup sinyal rasa sakit," kata Rowe. Jika ilmuwan bisa menemukan bagaimana interaksi toksin dan sel saraf, mereka mungkin bisa memproduksi senyawa yang reaksinya mirip dengan toksin itu.

Sumber : tempo.com



Buka File PDF Artikel     


Sebelumnya
Bagaimana Cara NASA Berkomunikasi dan Mengendalikan Robot Curiosity di Mars
  Berikutnya
Khoirul Anwar Penemu 4G LTE

 

(0) Komentar

Beri komentar





Hanya komentar yang sudah di-approve admin yang tampil.

KESIMPULAN : yesnetijen.web.id - Sengatan kalajengking Arizona sungguh menyakitkan. Orang menganggap rasanya sama saja seperti dipukul martil. Namun spesies tikus gurun Southern grasshopper (Onychomys torridus) ternyata tak merasakan apa pun saat disengat serangga itu. Karena kebal sengatan dan racunnya, tikus itu pun tenang saja melahap kalajengking Arizona (Centruroides sculpturatus). Tikus berukuran sekitar 12 sentimeter ini tergolong hewan karnivora, dan kalajengking adalah menu favorit mereka. Sengatan kalajengking Arizona sebenarnya mampu membunuh hewan pengerat lain dengan ukuran tubuh yang sama dengan Southern grasshopper. Namun tikus Southern grasshopper mengembangkan teknik efektif untuk mengatasi rasa sakit dan racun kalajengking. Ashlee Rowe, peneliti dari Michigan State University, mengatakan tikus tersebut sanggup menerima sengatan sebanyak apa pun saat mereka menyerang kalajengking. Tikus-tikus itu tidak hanya bertahan hidup melawan racun kalajengking, tapi tenyata tak merasakan sama sekali sengatan yang mereka terima. Penasaran dengan trik tikus menghilangkan rasa sakit akibat sengatan, Rowe dan koleganya menganalisis bagaimana sebenarnya racun itu beraksi pada sel saraf nociceptor. Ini adalah sel yang menerima dan meneruskan sinyal rasa sakit ke otak tikus. "Saya penasaran ketika tikus itu disengat, mereka hanya seperti menyisiri sejenak dan setelah itu selesai," kata Rowe kepada LiveScience. Biasanya sel saraf menyalurkan rasa sakit dengan mengubah stimulan menjadi gelombang eletrik. Kanal ion, saluran kecil dalam membran sel, membuka dan menutup untuk mengirimkan gelombang elektrik tersebut. Salah satu kanal ion, kanal potasium/sodium, ada di sel di seluruh tubuh. Kanal inilah yang mengoperasikan fungsi penting tubuh, mulai dari bernapas hingga kontraksi otot. Pada umumnya, racun kalajengking bereaksi langsung di kanal potasium/sodium di niciceptor dan menciptakan sensasi rasa sakit. Kanal khusus 1.7 berperan untuk mengambil sinyal rasa sakit, sementara kanal 1.8 mengirimnya ke otak. Namun, pada tikus Southern grasshopper, racun kalajengking langsung diikat di kanal 1.8. Dengan diikat di kanal transportasi, toksin otomatis mengeblok dirinya sendiri dan tikus tidak merasakan sakit. Alih-alih bertindak sebagai stimulan rasa nyeri, toksin itu justru beraksi seperti obat penahan sakit. "Ini seperti aksi memotong kabel penghubung," kata Rowe. Hasil studi Rowe dan kawan-kawannya dimuat dalam jurnal Science 25 Oktober lalu. "Toksin melakukan hal menarik pada kanal-kanal itu. Mereka membuka dan menutupnya serta memanipulasi dengan cara-cara yang tidak pernah kita bayangkan," kata Rowe. Penelitian ini menjadi pendukung usaha mencari cara untuk mendapatkan metode baru meredakan rasa sakit pada manusia. "Kami menemukan hal penting tentang manfaat kanal sodium 1.8 dan kemampuannya menutup sinyal rasa sakit," kata Rowe. Jika ilmuwan bisa menemukan bagaimana interaksi toksin dan sel saraf, mereka mungkin bisa memproduksi senyawa yang reaksinya mirip dengan toksin itu. Sumber : tempo.com

 

 

Step By Step Belajar HTML 5

 

 

Artikel Lainnya :