(Bag 1) Gempa di Indonesia Yang Tercatat Jumlah Korban Ribuan

  Minggu, 13 Januari 2019

 

Visualisasi gempa, kecil-menengah-besar di Indonesia dalam kurun waktu 40 tahun, 1973-2013

yesnetijen.web.id - Berikut ini adalah gempa-gempa yang pernah terjadi sepanjang sejarah di Indonesia yang telah tercatatdengan korban jiwa ribuan orang. Namun ada beberapa gempa bumi yang lebih besar lainnya dari daftar ini, namun tak tercatat jumlah korban jiwanya dikarenakan gempa tersebut terjadi pada abad ke-18. Berikut gempa-gempa tersebut:

 

 

9. Gempa Padang, Sumatera Barat, 2009

Korban : 1.117 (1.117 tewas, 1.214 terluka parah dan 1.688 luka ringan)

Tanggal : 30 September 2009
Magnitude : 7.9

Pusat gempa atau Epicenter Gempa Padang, Sumatera Barat, 30 September 2009.

Gempa Bumi Sumatera Barat 2009 terjadi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat pada pukul 17:16:10 WIB tanggal 30 September 2009. Gempa ini terjadi di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Kota Padang.

Gempa menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah di Sumatera Barat seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat.

Menurut data Satkorlak PB, sebanyak 1.117 orang tewas akibat gempa ini yang tersebar di 3 kota & 4 kabupaten di Sumatera Barat, korban luka berat mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, korban hilang 1 orang. Sedangkan 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, & 78.604 rumah rusak ringan.

Gempa Bumi Sumatera Barat 2009 terjadi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat pada pukul 17:16:10 WIB tanggal 30 September 2009. Gempa ini terjadi di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Kota Padang.

 

Gempa Bumi Sumatera Barat 2009 terjadi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat pada pukul 17:16:10 WIB tanggal 30 September 2009. Gempa ini terjadi di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Kota Padang.

This is an aerial view of an area affected by earthquake-triggered landslide in Padang Pariaman, West Sumatra, Indonesia, Wednesday"s 7.6 magnitude temblor devastated a stretch of more than 60 miles (100 kilometers) along the western coast of Sumatra island. Picture taken Saturday, Oct. 3, 2009 (AP Photo/Dita Alangkara)

 

 

8. Gempa Pulau Nias, Sumatera Utara 2005

Korban : 1.346

Tanggal : 28 Maret 2005
Magnitude : 8.6

Pusat gempa bumi antara Pulau Nias dan Pulau Simeulue, Sumatera Utara tanggal 28 Maret 2005.

Gempa Nias Sumatera Utara 28 Maret 2005

Gempa Bumi Sumatera 2005 terjadi pada pukul 23.09 WIB pada tanggal 28 Maret 2005.

Pusat gempanya berada di kordinat 2 04′ 35″ U 97 00′ 58″ T, 30 km di dasar Samudra Hindia, sejauh 200 km sebelah barat Sibolga, di lepas pantai Pulau Sumatera, atau 1.400 km barat laut Jakarta, sekitar setengah jarak atau antara dua pulau, yaitu Pulau Nias dan Pulau Simeulue.

Catatan seismik memberikan angka 8,7 skala Richter (BMG di Indonesia mencatat 8,2) dan getarannya terasa hingga Bangkok, Thailand, sekitar 1.000 km jauhnya. Dengan kekuatan sebesar 8,7 SR, gempa ini merupakan gempa Bumi terbesar kedua di dunia sejak tahun 1964.

Segera setelah terjadi, muncul peringatan akan kemungkinan datangnya tsunami yang akhirnya tidak terjadi. Gempa ini kemungkinan terpicu oleh gempa sebelumnya pada bulan Desember 2004, yaitu gempa Bumi Samudra Hindia 2004 (pada point urut #1).

 

 

7. Gempa Pulau Bali 1917

Korban : +1500 (minimal)

Tanggal : 20 Januari 1917
Magnitude : 6.6

Pusat gempa atau Epicenter Gempa Pulau Bali 20 Januari 1917.

Reruntuhan bangunan setelah gempa di Bali pada tahun 1917 (COLLECTIE TROPENMUSEUM via wikimedia.org)

Pada tanggal 21 Januari (atau 20 Januari pukul 23:11 UTC) Gempa di Bali terjadi pada pukul 06:50 waktu setempat.

Magnitudo diperkirakan sebesar 6,6 Skala Richter pada gelombang permukaan, dan memiliki intensitas yang dirasakan maksimal Level IX (kekerasan) skala intensitas Mercalli.

Gempa yang kuat ini menyebabkan tanah longsor dan mengakibatkan kerusakan luas di seluruh Bali, terutama di bagian selatan pulau.

Karena gempa ini memicu banyaknya tanah longsor maka menyebabkan 80% dari 1.500 korban tewas disebabkan longsoran tanah yang menimbun desa-desa.

 

 

6. Gempa Palu / Donggala, Sulawesi Tengah 2018

Korban : > 1.649 tewas, >600 luka, > 100 hilang, >16.000 mengungsi)

Tanggal : Jumat, 28 September 2018
Magnitude : 6.0 7.4 (multiple)

Rentetan gempa-gempa yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 di daerah Donggala, Palu, Mamuji, Sigi dan sekitarnya yang membuat likuifaksi tanah, tebing laut longsor, yang kemudian memicu gelombang tsunami. (sumber peta: USGS)

Perbandingan kondisi daerah Petobo di Palu sebelum (atas) dan sesudah gempa bumi (bawah) akibat likuifaksi (pencairan tanah). (sumber: DigitalGlobe)

Gempa bumi pada Jumat tanggal 28 September 2018 ini terjadi beberapa kali (multiple), dan yang paling kuat sebesar 7.4 M pukul 18.02 WITA waktu setempat (17.02 WIB. Gempa bumi ini diikuti gelombang tsunami yang melanda pantai barat Pulau Sulawesi bagian utara.

Pusat gempa bumi (episentrum) berada di darat, sekitar Kecamatan Sirenja, 26 km utara Donggala dan 80 km barat laut kota Palu dengan kedalaman 10 km. Gempa bumi terjadi karena pergeseran sesar mendatar dari sesar Palu-Koro yang membentang dari utara-barat laut ke selatan-tenggara di sepanjang pegunungan Sulawesi Tengah.

Sesar Palu-Koro termasuk sesar yang paling aktif, laju pergerakan di sepanjang Sesar Palu-Koro diperkirakan berada di kisaran 30-40 mm per tahun.

Perbandingan kondisi daerah Balaroa di Palu sebelum (atas) dan sesudah gempa bumi (bawah) akibat likuifaksi (pencairan tanah). (sumber: DigitalGlobe)

Guncangan gempa bumi dirasakan di kawasan Kabupaten Donggala, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Mamuju bahkan hingga Kota Samarinda, Kota Balikpapan, dan Kota Makassar.

Gempa memicu tsunami hingga ketinggian 1,5 sampai dengan 11 meter di Kota Palu dan Donggala serta sekitar pesisir pantainya. Namun tsunami terjadi bukan akibat gempa, tetapi akibat longsornya tebing-tebing di bawah laut di sepanjang Teluk Palu tersebut.

Teluk Palu sangat dalam, dasarnya seperti palung yang konturnya di dalam laut mirip tebing yang curam, lalu akibat getaran gempa yang kuat, maka tebing-tebing bawah laut longsor dan menyebabkan gelombang tsunami yang bertubi-tubi.

Gelombang tsunami terjadi beberapa kali karena berada di dalam Teluk Palu yang tertutup dan dalam, hal itu membuat gelombang tsunami tak mudah keluar teluk, melainkan berada di dalam teluk dan membuat pantulan ke pantai berkali-kali yang membuat terjadinya tsunami yang juga bertubi-tubi.

Perbandingan kondisi daerah Jembatan Kuning di Palu sebelum (atas) dan sesudah gempa bumi (bawah) yang ambruk akibat guncangan gempa. (sumber: DigitalGlobe). Korban pada gempa dan tsunami 8 September 2018, lebih dari 1.649 tewas, 600 lebih luka, 100 hilang, dan lebih 16.000 mengungsi.

Banyaknya korban jiwa, selain karena gelombang tsunami, juga akibat muncul gejala liquefaction atau likuifaksi (pencairan tanah) yang terjadi beberapa saat setelah puncak gempa terjadi dan memakan banyak korban jiwa dan material. Daerah paling parah karena likuifaksi tanah adalah daerah Petobo, Balaroa dan daerah Jono Oge.

Semua bangunan di ketiga daerah tersebut terseret tanah berlumpur hingga sejauh kurang lebih dua kilometer, selain itu akibat likuifaksi banyak bangunan rumah yang terkubur atau tersedot ke dalam tanah.

Daerah Palu dan sekitarnya sudah mengalami beberapa kali bencana gempa dan tsunami. Yang tercatat di era modern diantaranya pada 1 Desember 1927, 30 Januari 1930, 14 Agustus 1938, 1 Januari 1996, 11 Oktober 1998, 24 Jamuari 2005, 17 November 2008, 10 Agustus 2012, 12 Januari 2015, dan 28 September 2018 ini.

 

 

5. Gempa Ambon 1674

Korban: + 2.322

Tanggal: 17 Februari 1674
Magnitude: tidak tercatat

Pusat gempa atau Epicenter Gempa Ambon 17 Februari 1674 di Laut Banda.

Kekuatan gempa tak diketahui karena belum adanya teknologi pencatatan gempa di lokasi kejadian pada saat itu. Tapi diperkirakan kekuatan gempa diatas 7,5 SR, dan tinggi tsunami mencapai 10 meter. Korban meninggal, luka-luka dan mengungsi meliputi beberapa kota di pesisir Pulau Ambon, Pulau Seram, dan pulau-pulau lainnya disekitar kepulauan Maluku dan Laut Banda.

Menurut catatan ilmuwan Belanda kelahiran Jerman, Georg Eberhard Rumphius, korban jiwa sebanyak 2.243 orang lebih, termasuk 31 orang Eropa. Jadi korban tewas seluruhnya adalah 2.322 jiwa.

 

Sumber :

  • indocropcircle.com
  • smate.wwu.edu/teched/geology/tsu-NicaIndo92.html
  • en.wikipedia.org/wiki/List-of-earthquakes-in-Indonesia



Buka File PDF Artikel     


Sebelumnya
Sejarah Meletusnya Gunung Galunggung Sejak 1822, 1894, 1918 dan 1982
  Berikutnya
(Bag 2) Gempa di Indonesia Yang Tercatat Jumlah Korban Ribuan

 

(1) Komentar

avatar user

Danangjkt21 Feb 2019

Indonesia ladang bencana gempa,gunung meletus,tsunami,hiks😰

Beri komentar





Hanya komentar yang sudah di-approve admin yang tampil.

KESIMPULAN :   Visualisasi gempa, kecil-menengah-besar di Indonesia dalam kurun waktu 40 tahun, 1973-2013 yesnetijen.web.id - Berikut ini adalah gempa-gempa yang pernah terjadi sepanjang sejarah di Indonesia yang telah tercatatdengan korban jiwa ribuan orang. Namun ada beberapa gempa bumi yang lebih besar lainnya dari daftar ini, namun tak tercatat jumlah korban jiwanya dikarenakan gempa tersebut terjadi pada abad ke-18. Berikut gempa-gempa tersebut:     9. Gempa Padang, Sumatera Barat, 2009 Korban : 1.117 (1.117 tewas, 1.214 terluka parah dan 1.688 luka ringan) Tanggal : 30 September 2009 Magnitude : 7.9 Pusat gempa atau Epicenter Gempa Padang, Sumatera Barat, 30 September 2009. Gempa Bumi Sumatera Barat 2009 terjadi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat pada pukul 17:16:10 WIB tanggal 30 September 2009. Gempa ini terjadi di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Kota Padang. Gempa menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah di Sumatera Barat seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat. Menurut data Satkorlak PB, sebanyak 1.117 orang tewas akibat gempa ini yang tersebar di 3 kota & 4 kabupaten di Sumatera Barat, korban luka berat mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, korban hilang 1 orang. Sedangkan 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, & 78.604 rumah rusak ringan. Gempa Bumi Sumatera Barat 2009 terjadi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat pada pukul 17:16:10 WIB tanggal 30 September 2009. Gempa ini terjadi di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Kota Padang.   Gempa Bumi Sumatera Barat 2009 terjadi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat pada pukul 17:16:10 WIB tanggal 30 September 2009. Gempa ini terjadi di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Kota Padang. This is an aerial view of an area affected by earthquake-triggered landslide in Padang Pariaman, West Sumatra, Indonesia, Wednesday"s 7.6 magnitude temblor devastated a stretch of more than 60 miles (100 kilometers) along the western coast of Sumatra island. Picture taken Saturday, Oct. 3, 2009 (AP Photo/Dita Alangkara)     8. Gempa Pulau Nias, Sumatera Utara 2005 Korban : 1.346 Tanggal : 28 Maret 2005 Magnitude : 8.6 Pusat gempa bumi antara Pulau Nias dan Pulau Simeulue, Sumatera Utara tanggal 28 Maret 2005. Gempa Nias Sumatera Utara 28 Maret 2005 Gempa Bumi Sumatera 2005 terjadi pada pukul 23.09 WIB pada tanggal 28 Maret 2005. Pusat gempanya berada di kordinat 2 04′ 35″ U 97 00′ 58″ T, 30 km di dasar Samudra Hindia, sejauh 200 km sebelah barat Sibolga, di lepas pantai Pulau Sumatera, atau 1.400 km barat laut Jakarta, sekitar setengah jarak atau antara dua pulau, yaitu Pulau Nias dan Pulau Simeulue. Catatan seismik memberikan angka 8,7 skala Richter (BMG di Indonesia mencatat 8,2) dan getarannya terasa hingga Bangkok, Thailand, sekitar 1.000 km jauhnya. Dengan kekuatan sebesar 8,7 SR, gempa ini merupakan gempa Bumi terbesar kedua di dunia sejak tahun 1964. Segera setelah terjadi, muncul peringatan akan kemungkinan datangnya tsunami yang akhirnya tidak terjadi. Gempa ini kemungkinan terpicu oleh gempa sebelumnya pada bulan Desember 2004, yaitu gempa Bumi Samudra Hindia 2004 (pada point urut #1).     7. Gempa Pulau Bali 1917 Korban : +1500 (minimal) Tanggal : 20 Januari 1917 Magnitude : 6.6 Pusat gempa atau Epicenter Gempa Pulau Bali 20 Januari 1917. Reruntuhan bangunan setelah gempa di Bali pada tahun 1917 (COLLECTIE TROPENMUSEUM via wikimedia.org) Pada tanggal 21 Januari (atau 20 Januari pukul 23:11 UTC) Gempa di Bali terjadi pada pukul 06:50 waktu setempat. Magnitudo diperkirakan sebesar 6,6 Skala Richter pada gelombang permukaan, dan memiliki intensitas yang dirasakan maksimal Level IX (kekerasan) skala intensitas Mercalli. Gempa yang kuat ini menyebabkan tanah longsor dan mengakibatkan kerusakan luas di seluruh Bali, terutama di bagian selatan pulau. Karena gempa ini memicu banyaknya tanah longsor maka menyebabkan 80% dari 1.500 korban tewas disebabkan longsoran tanah yang menimbun desa-desa.     6. Gempa Palu / Donggala, Sulawesi Tengah 2018 Korban : > 1.649 tewas, >600 luka, > 100 hilang, >16.000 mengungsi) Tanggal : Jumat, 28 September 2018 Magnitude : 6.0 7.4 (multiple) Rentetan gempa-gempa yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 di daerah Donggala, Palu, Mamuji, Sigi dan sekitarnya yang membuat likuifaksi tanah, tebing laut longsor, yang kemudian memicu gelombang tsunami. (sumber peta: USGS) Perbandingan kondisi daerah Petobo di Palu sebelum (atas) dan sesudah gempa bumi (bawah) akibat likuifaksi (pencairan tanah). (sumber: DigitalGlobe) Gempa bumi pada Jumat tanggal 28 September 2018 ini terjadi beberapa kali (multiple), dan yang paling kuat sebesar 7.4 M pukul 18.02 WITA waktu setempat (17.02 WIB. Gempa bumi ini diikuti gelombang tsunami yang melanda pantai barat Pulau Sulawesi bagian utara. Pusat gempa bumi (episentrum) berada di darat, sekitar Kecamatan Sirenja, 26 km utara Donggala dan 80 km barat laut kota Palu dengan kedalaman 10 km. Gempa bumi terjadi karena pergeseran sesar mendatar dari sesar Palu-Koro yang membentang dari utara-barat laut ke selatan-tenggara di sepanjang pegunungan Sulawesi Tengah. Sesar Palu-Koro termasuk sesar yang paling aktif, laju pergerakan di sepanjang Sesar Palu-Koro diperkirakan berada di kisaran 30-40 mm per tahun. Perbandingan kondisi daerah Balaroa di Palu sebelum (atas) dan sesudah gempa bumi (bawah) akibat likuifaksi (pencairan tanah). (sumber: DigitalGlobe) Guncangan gempa bumi dirasakan di kawasan Kabupaten Donggala, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Mamuju bahkan hingga Kota Samarinda, Kota Balikpapan, dan Kota Makassar. Gempa memicu tsunami hingga ketinggian 1,5 sampai dengan 11 meter di Kota Palu dan Donggala serta sekitar pesisir pantainya. Namun tsunami terjadi bukan akibat gempa, tetapi akibat longsornya tebing-tebing di bawah laut di sepanjang Teluk Palu tersebut. Teluk Palu sangat dalam, dasarnya seperti palung yang konturnya di dalam laut mirip tebing yang curam, lalu akibat getaran gempa yang kuat, maka tebing-tebing bawah laut longsor dan menyebabkan gelombang tsunami yang bertubi-tubi. Gelombang tsunami terjadi beberapa kali karena berada di dalam Teluk Palu yang tertutup dan dalam, hal itu membuat gelombang tsunami tak mudah keluar teluk, melainkan berada di dalam teluk dan membuat pantulan ke pantai berkali-kali yang membuat terjadinya tsunami yang juga bertubi-tubi. Perbandingan kondisi daerah Jembatan Kuning di Palu sebelum (atas) dan sesudah gempa bumi (bawah) yang ambruk akibat guncangan gempa. (sumber: DigitalGlobe). Korban pada gempa dan tsunami 8 September 2018, lebih dari 1.649 tewas, 600 lebih luka, 100 hilang, dan lebih 16.000 mengungsi. Banyaknya korban jiwa, selain karena gelombang tsunami, juga akibat muncul gejala liquefaction atau likuifaksi (pencairan tanah) yang terjadi beberapa saat setelah puncak gempa terjadi dan memakan banyak korban jiwa dan material. Daerah paling parah karena likuifaksi tanah adalah daerah Petobo, Balaroa dan daerah Jono Oge. Semua bangunan di ketiga daerah tersebut terseret tanah berlumpur hingga sejauh kurang lebih dua kilometer, selain itu akibat likuifaksi banyak bangunan rumah yang terkubur atau tersedot ke dalam tanah. Daerah Palu dan sekitarnya sudah mengalami beberapa kali bencana gempa dan tsunami. Yang tercatat di era modern diantaranya pada 1 Desember 1927, 30 Januari 1930, 14 Agustus 1938, 1 Januari 1996, 11 Oktober 1998, 24 Jamuari 2005, 17 November 2008, 10 Agustus 2012, 12 Januari 2015, dan 28 September 2018 ini.     5. Gempa Ambon 1674 Korban: + 2.322 Tanggal: 17 Februari 1674 Magnitude: tidak tercatat Pusat gempa atau Epicenter Gempa Ambon 17 Februari 1674 di Laut Banda. Kekuatan gempa tak diketahui karena belum adanya teknologi pencatatan gempa di lokasi kejadian pada saat itu. Tapi diperkirakan kekuatan gempa diatas 7,5 SR, dan tinggi tsunami mencapai 10 meter. Korban meninggal, luka-luka dan mengungsi meliputi beberapa kota di pesisir Pulau Ambon, Pulau Seram, dan pulau-pulau lainnya disekitar kepulauan Maluku dan Laut Banda. Menurut catatan ilmuwan Belanda kelahiran Jerman, Georg Eberhard Rumphius, korban jiwa sebanyak 2.243 orang lebih, termasuk 31 orang Eropa. Jadi korban tewas seluruhnya adalah 2.322 jiwa.   Sumber : indocropcircle.com smate.wwu.edu/teched/geology/tsu-NicaIndo92.html en.wikipedia.org/wiki/List-of-earthquakes-in-Indonesia

 

 

Step By Step Belajar HTML 5

 

 

Artikel Lainnya :