Misteri Letusan Gunung Toba (Supervolcano)

  Senin, 07 Januari 2019

yesnetijen.web.id - Gunung Toba adalah gunung api raksasa (super volcano) yaitu gunung aktif dalam kategori sangat besar, diperkirakan meletus terakhir sekitar 74.000 tahun lalu.

Sebuah ledakan gunung berapi berjenis "Supervolcano" di Pulau Sumatra sekitar 74 ribu tahun lalu ini, dinyatakan telah menghancurkan sebagian besar populasi manusia purba. Ketika Gunung Toba meletus, ledakan yang begitu dahsyat membuat bumi tertutup abu vulkanik, dan terjadi pendinginan temperatur secara signifikan.

Letusan Gunung Tambora jika dibandingkan dengan letusan maha dahsyat Gunung Toba ini, maka Gunung Tambora tidaklah ada apa-apanya. Apalagi jika dibandingkan dengan letusan Gunung Kratakau yang kalah jauh dengan Gunung Tambora.


Perbandingan letusan gunung Tambora dengan gunung Toba supervolcano

Jadi, misalkan letusan gunung St. Helen di Washington USA yang meletus tahun 1980 mempunyai angka letusan pada skala 1, maka gunung Krakatau yang meletus tahun 1883 berskala 18, atau 18 kali lebih besar (1:18).

Sedangkan jika dibandingkan dengan skala gunung Tambora, letusan gunung St. Helen sangat jauh karena gunung Tambora yang meletus tahun 1815 berskala 80, atau 80 kali lebih besar dari letusan gunung St. Helen (1:80).


Letusan gunung St. Helen , 8 Mei 1980.

Apalagi jika letusan gunung St. Helen dibandingkan dengan letusan gunung Toba yang terakhir, sekitar 74-75 ribu tahun lalu tersebut sangatlah drastis besaran skalanya yaitu 2800, atau 2800 kali lebih besar dari letusan gunung St. Helen! Alias satu banding 2800 (1:2800)

Letusan Gunung Tambora adalah letusan gunung terdahsyat yang pernah diketahui oleh peradaban manusia (baca artikel: Misteri dan Kronologi Meletusnya Tambora, Tiga Kerajaan Lenyap Seketika).

Dan letusan Gunung Krakatau adalah letusan gunung terdahsyat yang pernah tercatat di era zaman modern. Sedangkan letusan Gunung Toba sama sekali tak tercatat di dalam buku, namun terlihat bukti-bukti ilmiahnya dimasa kini.

 

 

Bukti ilmiah

Pada tahun 1939, geolog Belanda Van Bemmelen melaporkan, Danau Toba, yang panjangnya 100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan gunung.

Karena itu, Van Bemmelen menyimpulkan, Toba adalah sebuah gunung berapi. Belakangan, beberapa peneliti lain menemukan debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba di Malaysia, bahkan juga sejauh 3.000 kilometer ke utara hingga India Tengah.


Letusan supervolcano Yellowstone yang terkenal dahsyat masih kalah dengan letusan supervolcano Toba Beberapa ahli kelautan pun melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Benggala.

Para peneliti awal, Van Bemmelen juga Aldiss dan Ghazali (1984) telah menduga Toba tercipta lewat sebuah letusan maha-dahsyat. Namun peneliti lain, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), serta Nishimura (1984), menduga kaldera itu tercipta lewat beberapa kali letusan.

Peneliti lebih baru, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan Rose (1991), memberikan perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa. Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa yang sedang tidur itu. Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi dari Indonesia, seismolog pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Sarjana fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih gelar doktor dari Renssealer Polytechnic Institute, New York, pada 1998, untuk penelitiannya mengenai Toba.


Perbandingan jarak lontaran batu vulkanik antara letusan gunung Krakatau, Tambora dan Toba

 

 

Berada di tiga lempeng tektonik

Letak Gunung Toba (kini: Danau Toba), di Indonesia memang rawan bencana. Hal ini terkait dengan posisi Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng Eurasia, yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda.

Lempeng benua ini hidup, setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya dengan jarak tertentu. Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua selalu jadi sasaran.

Lempeng Indo-Australia misalnya menumbuk lempeng Eurasia sejauh 5-7 cm per tahun. Atau Lempeng Pasifikyang bergeser secara relatif terhadap lempeng Eurasia sejauh 11 cm per tahun. Dari pergeseran itu, muncullah rangkaian gunung, termasuk gunung berapi Toba.


Lempeng Indo-Australia menumbuk lempeng Eurasia sejauh 5-7 cm per tahun

Jika ada tumbukan, lempeng lautan yang mengandung lapisan sedimen menyusup di bawahnya lempeng benua. Proses ini lantas dinamakan subduksi atau penyusupan. Gunung hasil subduksi, salah satunya Gunung Toba. Meski sekarang tak lagi berbentuk gunung, sisa-sisa kedasahyatan letusannya masih tampak hingga saat ini.

Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar tiga kali yang pertama 840 ribu tahun lalu dan yang terakhir 74.000 tahun lalu. Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas 100 km x 30 km persegi. Daerah yang tersisa kemudian membentuk kaldera. Di tengahnya kemudian muncul Pulau Samosir.

 

 

Letusan Super Gunung Toba

Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali.

  1. Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.
  2. Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat.
  3. Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.

Gunung Toba ini tergolong Supervolcano. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali. Volcano kalderanya ratusan meter, sedangkan Supervolacano itu puluhan kilometer.

Yang menarik adalah terjadinya anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu tempat dengan lainnya akan memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunyai massa, ketinggian dan kerelatifan yang sama.

Jika ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka gaya tariknya berbeda. Bayangkan gunung meletus. Banyak materi yang keluar, artinya kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang. Lalu yang terjadi up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.


Terlihat pemandangan kaldera gunung Toba yang kini bernama Danau Toba dan ditengahnya terdapat pulau Samosir yang terbentuk karena adanya gaya up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan. Dia sudah tidak punya daya untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi. Ini terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Hanya Samosir yang terangkat karena daerah itu yang terlemah. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera.

Sedangkan nenek moyang manusia modern, Homo sapiens, mulai muncul dan tinggal di kawasan Afrika 150.000-200.000 tahun lalu. Mereka mulai bermigrasi ke luar Afrika 70.000 tahun lalu dan menyebar ke seluruh dunia. Pada periode yang lebih kurang sama, 74.000 tahun lalu, terjadi letusan dahsyat Gunung Toba ini. Apabila dikaitkan dengan letusan Toba, temuan itu juga menunjukkan bahwa nenek moyang kita ternyata mampu bertahan dari bencana dahsyat yang berpotensi memusnahkan kehidupan.

Skenario survival tersebut didukung bukti dari rekam jejak DNA pada populasi di kawasan Wallacea yang menunjukkan campuran gen dengan populasi dari kawasan Sunda Besar (yang sekarang dikenal sebagai kawasan Asia Tenggara). Selain itu, ada temuan fosil dan peninggalan manusia purba di Gua Niah, Sarawak. Dari umurnya, temuan Niah mengindikasikan bahwa manusia tidak musnah karena letusan Toba.


Wallacea has two major biogeographical boundaries: Lydekker"s Line to the east and Wallace"s Line to the west. Exposed land during periods of low sea level (−120 metres) is lightly shaded. The arrow points to the Talepu Area. (Image: nature.com)

 

 

Enam Hal Mengerikan ini Akan Terjadi Jika Danau Toba Meletus Sekali Lagi

Para ilmuwan sangat meyakini bahwa semua supervolcano yang ada di dunia termasuk Gunung Toba pasti akan meletus kembali. Namun tidak ada yang dapat memastikan dengan akurat kapan meletus kembali. Yang ada hanyalah perkiraan.

 

1. Jutaan Ton Asam Belerang Akan Membuat Dunia Gelap Total

Dulu, dalam sekali hentakan erupsi, Gunung Toba kuno mampu memuntahkan jutaan ton asam belerang ke udara. Ketika ini terjadi, maka dunia akan dipenuhi dengan asap beracun yang seperti mencekik kerongkongan.

Bahkan ketika ini terjadi di masa lalu, dunia tiba-tiba gelap seketika. Seperti ketika Sumatera dan Kalimantan terkena bencana asap, namun dengan tingkat yang lebih parah lagi. Bahkan momen kegelapan ini diperkirakan tak hilang dalam waktu beberapa tahun.

 

2. Kehidupan Akan Mati

Tak hanya membuat dunia gelap dan polusi, erupsi Toba di masa lalu juga membuat kehidupan seakan berakhir. Bagaimana bisa? Ya, ternyata material erupsinya menyelimuti Bumi secara keseluruhan. Alhasil, sinar matahari terhalang total sehingga tidak mendukung kehidupan.

Fotosintesis mati, tumbuhan layu seketika, hewan-hewan dan manusia akan mulai kehilangan waktu mereka. Dampak erupsi yang tak hanya sebentar pun berakibat matinya kehidupan. Skenario ini benar-benar terjadi di masa lalu.

 

3. Samudera Menjadi Sangat Dingin

Seorang geolog dari New York University melakukan penelitian untuk mencari tahu bagaimana iklim Bumi di masa lalu. Ia pun melakukan penggalian di dasar laut dan menemukan sebuah benda bernama foraminifera. Dari sini ia pun terkejut bukan main, karena ini merupakan indikasi kalau dulu suhu Bumi sangat ekstrem.

Penelitian ini pun dikembangkan termasuk dengan penemuan debu-debu fulkanis kuno di Greenland. Lewat penelitian ini akhirnya terkuak sebuah titik temu. Si peneliti yakin jika ada sebuah fenomena yang memicu suhu ekstrem ini. Dan pada akhirnya diketahui jika penyebabnya adalah erupsi Gunung Toba. Sang geolog juga menyebutkan jika gara-gara erupsi ini samudera seluruh dunia mengalami penurunan suhu sampai 5 derejat celcius. Hampir beku!

 

4. Cuaca Ekstrem Hingga Puluhan Tahun

74 ribu tahun lalu setelah tragedi ini, peneliti memperkirakan jika Bumi mengalami suhu super dingin. Jika samudera saja bisa sedingin itu, maka udara pun diperkirakan tak jauh beda. Cuaca seperti ini juga akan bertahan tak hanya satu atau dua bulan saja, tapi puluhan tahun!

Dunia mungkin akan memasuki zaman es namun berbeda versi. Akibat letusan Toba, Bumi tak hanya membeku tapi juga gelap luar biasa. Takkan ada yang sanggup melewati ini, hingga akhirnya skenario ini bakal jadi akhir kehidupan makhluk hidup.

 

5. Danau Toba dan Pulau Samosir Lenyap

Dampak dari letusan Toba di masa lalu adalah kaldera yang bisa kita lihat hari ini. Lalu bagaimana jika letusan yang identik seperti 74 ribu tahun lalu terjadi lagi? Mungkin Danau Toba dan Pulau Samosir akan lenyap, bahkan bisa saja Sumatera akan terbelah.

Hal ini sangat mungkin karena Toba terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik. Saling tumbuk tiga lempeng ini menyebabkan subduksi atau penyusupan. Sehingga gara-gara ini eksistensi Danau Toba Sendiri jadi terancam. Saat erupsi sendiri pasti juga akan terjadi lontaran besar, di momen tersebut pasti juga akan mengakibatkan sebagian pulau Samosir terlempar.

 

6. Memicu Gunung Api Lain

Gunung api memiliki jalur penghubung antara satu dan lainnya. Ketika satu bereaksi, maka yang lain pun akan terpicu. Seperti kasus beberapa waktu lalu ketika gunung-gunung api di Indonesia perlahan mulai bergantian aktif satu demi satu. Jika pemicunya adalah super volcano seperti Toba, maka sudah tentu yang lain juga akan terpengaruh lebih kuat.

Setelah Toba meledak, maka kemungkinan besar deretan gunung yang berada pada jalur tektoniknya ikut erupsi pula. Jika gunung-gunung meletus bersamaan, maka tak terbayangkan ngerinya.

Toba "Supervolcano" Lake and Samosir Island

 

 

Manusia Purba di Afrika Selatan Selamat Dari Ledakan Gunung Toba

Awalnya peneliti yakin bahwa manusia purba di bumi bagian selatan dipastikan telah terpapar dengan abu vulkanik Gunung Toba, dan kemudian meninggal pelan-pelan. Sekarang fakta itu telah dipatahkan berkat penemuan ini.

Manusia purba di Afrika Selatan selamat tanpa luka dari kehancuran letusan Gunung Toba, seperti yang dilansir dari Reuters. Ditemukannya bukti kegiatan sehari-hari manusia purba tetap berjalan seperti biasa

Arkeolog melakukan penelitian di dua lokasi arkeologis pantai selatan di Afrika Selatan, ternyata menemukan bukti partikel atau serpihan vulkanik dari ledakan supervolcano Gunung Toba yang letaknya 9000 km di Timur.

Kekuatan ledakan yang begitu luar biasa, membuat dunia mengalami "musim dingin gunung api" selama puluhan tahun. Selama periode itu, bumi mengalami pendinginan, ekosistem menjadi rusak, dan hampir seluruh tanaman di dunia mati.

Permasalahan inilah yang harus dihadapi manusia purba. Sehingga sebagian besar dari mereka harus tewas karena kelaparan. Arkeolog menemukan sebuah tempat perlindungan dari batu yang digunakan manusia purba sebagai tempat tinggal, berumur 90 ribu hingga 50 ribu tahun lalu. Di sana peneliti tidak menemukan adanya upaya meninggalkan lokasi oleh manusia purba ketika erupsi terjadi.

Bahkan mereka menyatakan kegiatan sehari-hari manusia purba berjalan seperti biasa tanpa adanya hambatan. Hal ini sungguh mengejutkan para peneliti. Karena serpihan abu vulkanik sendiri sudah berhasil mencapai lokasi, tetapi para manusia purba tetap menjalani hidup mereka sebagaimana mestinya.

 

 

Sangat Mungkin Populasi Manusia Purba Di Wilayah Lain Menderita

Penemuan bukti baru ini memang telah mengejutkan banyak pihak. Hanya peneliti yakin bahwa sisa populasi yang berada di daerah sekitarnya, kondisi hidup mereka akan jauh berbeda dengan yang ada di sini.

Menurut para arkeolog, manusia purba di pantai selatan itu dapat bertahan hidup. Karena sumber makanan mereka berasal dari laut, seperti ikan dan kerang-kerangan, ketimbang mereka yang hidup di tengah daratan yang membutuhkan tanaman, serta hewan untuk bertahan hidup.

Kematian terbesar manusia purba tentunya disebabkan kelaparan luar biasa. Karena tidak ada makanan yang tersedia di alam (Terutama wilayah tengah daratan).

Gelapnya dunia membuat tumbuhan tidak mendapatkan sinar cahaya matahari untuk bertahan hidu. Sehingga hampir semuanya mati. Sedangkan hewan herbivora yang sering diburu manusia, ikut mati karena tidak ada ketersediaan tanaman untuk dimakan.

Manusia purba sendiri yang masih sangat sulit untuk beradapatasi, secara terpaksa harus bergerak atau mati di tempat.Bagi mereka yang berada di pantai, tentunya mendapatkan perlindungan khusus dari alam dan ekosistem laut yang bisa dikatakan cukup stabil. Tetapi kondisi cuaca yang ekstrem akibat letusan supervolcano, terkadang mereka juga harus berpindah tempat untuk mencari lokasi yang baru dan aman.

Ledakan Supervolcano Gunung Toba terdahsyat selama 2 juta tahun terakhir

Tercatat dalam sejarah perkembangan bumi, ledakan Gunung Toba merupakan ledakan gunung "supervolcano" terkuat dalam 2 juta tahun terakhir, dan belum ada yang dapat menandinginya hingga sekarang, dilansir dari Nationalgeographic.

Pulau Sumatra yang terguncang akibat letusan Gunung Toba, membuat dunia memasuki era kegelapan yang begitu pekat. Abu vulkanik beterbangan di mana-mana. Hingga racun yang dapat membunuh baik hewan, tumbuhan, maupun manusia menyebar begitu luas. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menghindari ledakan gunung supervolcano itu.

Meskipun begitu, dengan ditemukannya bukti konkret baru mengenai manusia purba yang selamat tanpa adanya luka di pantai selatan, Afrika Selatan, membuat teori dampak letusan Gunung Toba kembali diperdebatkan jauh lebih dalam. Sampai sekarang, peneliti masih menyelidiki lebih lanjut dampak sebenarnya dari ledakan Gunung "Supervolcano" Toba terhadap perkembangan bumi serta manusia.


Bencana-bencana seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa diintevensi manusia. Ada pun alat-alat canggih yang ada sifatnya hanya memberikan peringatan, tidak mencegah.

Letusannya bisa saja terjadi esok hari atau ribuan tahun lagi. Yang jelas suatu saat danau Toba yang tercipta akibat hasil dari letusan gunung Toba pasti akan meletus kembali.

Jadi, jika bencana ini terjadi, maka sepertinya takkan ada harapan. Bahkan kata para peneliti, kehidupan takkan pernah mudah lagi ketika super volcano memuntahkan isinya.

Dan yang perlu diingat lagi adalah, letusan gunung setara Gunung Krakatau atau sekelasnya yang dibilang dahsyat, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan letusan gunung setingkat SUPER VOLCANO, seperti Gunung Toba nan begitu luasnya hingga di tengahnya terdapat Pulau Samosir, yang berada di kordinat 0235′20.9″N 9848′34.8″E ini.

Sumber : IndoCropCircle.com , wikipedia



Buka File PDF Artikel     


Sebelumnya
(Bag 2) Mengapa Gempa Bumi Terus Terjadi di Indonesia
  Berikutnya
Sejarah Meletusnya Gunung Galunggung Sejak 1822, 1894, 1918 dan 1982

 

(0) Komentar

Beri komentar





Hanya komentar yang sudah di-approve admin yang tampil.

KESIMPULAN : yesnetijen.web.id - Gunung Toba adalah gunung api raksasa (super volcano) yaitu gunung aktif dalam kategori sangat besar, diperkirakan meletus terakhir sekitar 74.000 tahun lalu. Sebuah ledakan gunung berapi berjenis "Supervolcano" di Pulau Sumatra sekitar 74 ribu tahun lalu ini, dinyatakan telah menghancurkan sebagian besar populasi manusia purba. Ketika Gunung Toba meletus, ledakan yang begitu dahsyat membuat bumi tertutup abu vulkanik, dan terjadi pendinginan temperatur secara signifikan. Letusan Gunung Tambora jika dibandingkan dengan letusan maha dahsyat Gunung Toba ini, maka Gunung Tambora tidaklah ada apa-apanya. Apalagi jika dibandingkan dengan letusan Gunung Kratakau yang kalah jauh dengan Gunung Tambora. Perbandingan letusan gunung Tambora dengan gunung Toba supervolcano Jadi, misalkan letusan gunung St. Helen di Washington USA yang meletus tahun 1980 mempunyai angka letusan pada skala 1, maka gunung Krakatau yang meletus tahun 1883 berskala 18, atau 18 kali lebih besar (1:18). Sedangkan jika dibandingkan dengan skala gunung Tambora, letusan gunung St. Helen sangat jauh karena gunung Tambora yang meletus tahun 1815 berskala 80, atau 80 kali lebih besar dari letusan gunung St. Helen (1:80). Letusan gunung St. Helen , 8 Mei 1980. Apalagi jika letusan gunung St. Helen dibandingkan dengan letusan gunung Toba yang terakhir, sekitar 74-75 ribu tahun lalu tersebut sangatlah drastis besaran skalanya yaitu 2800, atau 2800 kali lebih besar dari letusan gunung St. Helen! Alias satu banding 2800 (1:2800) Letusan Gunung Tambora adalah letusan gunung terdahsyat yang pernah diketahui oleh peradaban manusia (baca artikel: Misteri dan Kronologi Meletusnya Tambora, Tiga Kerajaan Lenyap Seketika). Dan letusan Gunung Krakatau adalah letusan gunung terdahsyat yang pernah tercatat di era zaman modern. Sedangkan letusan Gunung Toba sama sekali tak tercatat di dalam buku, namun terlihat bukti-bukti ilmiahnya dimasa kini.     Bukti ilmiah Pada tahun 1939, geolog Belanda Van Bemmelen melaporkan, Danau Toba, yang panjangnya 100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan gunung. Karena itu, Van Bemmelen menyimpulkan, Toba adalah sebuah gunung berapi. Belakangan, beberapa peneliti lain menemukan debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba di Malaysia, bahkan juga sejauh 3.000 kilometer ke utara hingga India Tengah. Letusan supervolcano Yellowstone yang terkenal dahsyat masih kalah dengan letusan supervolcano Toba Beberapa ahli kelautan pun melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Benggala. Para peneliti awal, Van Bemmelen juga Aldiss dan Ghazali (1984) telah menduga Toba tercipta lewat sebuah letusan maha-dahsyat. Namun peneliti lain, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), serta Nishimura (1984), menduga kaldera itu tercipta lewat beberapa kali letusan. Peneliti lebih baru, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan Rose (1991), memberikan perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa. Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa yang sedang tidur itu. Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi dari Indonesia, seismolog pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Sarjana fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih gelar doktor dari Renssealer Polytechnic Institute, New York, pada 1998, untuk penelitiannya mengenai Toba. Perbandingan jarak lontaran batu vulkanik antara letusan gunung Krakatau, Tambora dan Toba     Berada di tiga lempeng tektonik Letak Gunung Toba (kini: Danau Toba), di Indonesia memang rawan bencana. Hal ini terkait dengan posisi Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng Eurasia, yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda. Lempeng benua ini hidup, setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya dengan jarak tertentu. Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua selalu jadi sasaran. Lempeng Indo-Australia misalnya menumbuk lempeng Eurasia sejauh 5-7 cm per tahun. Atau Lempeng Pasifikyang bergeser secara relatif terhadap lempeng Eurasia sejauh 11 cm per tahun. Dari pergeseran itu, muncullah rangkaian gunung, termasuk gunung berapi Toba. Lempeng Indo-Australia menumbuk lempeng Eurasia sejauh 5-7 cm per tahun Jika ada tumbukan, lempeng lautan yang mengandung lapisan sedimen menyusup di bawahnya lempeng benua. Proses ini lantas dinamakan subduksi atau penyusupan. Gunung hasil subduksi, salah satunya Gunung Toba. Meski sekarang tak lagi berbentuk gunung, sisa-sisa kedasahyatan letusannya masih tampak hingga saat ini. Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar tiga kali yang pertama 840 ribu tahun lalu dan yang terakhir 74.000 tahun lalu. Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas 100 km x 30 km persegi. Daerah yang tersisa kemudian membentuk kaldera. Di tengahnya kemudian muncul Pulau Samosir.     Letusan Super Gunung Toba Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali. Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea. Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat. Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya. Gunung Toba ini tergolong Supervolcano. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali. Volcano kalderanya ratusan meter, sedangkan Supervolacano itu puluhan kilometer. Yang menarik adalah terjadinya anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu tempat dengan lainnya akan memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunyai massa, ketinggian dan kerelatifan yang sama. Jika ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka gaya tariknya berbeda. Bayangkan gunung meletus. Banyak materi yang keluar, artinya kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang. Lalu yang terjadi up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir. Terlihat pemandangan kaldera gunung Toba yang kini bernama Danau Toba dan ditengahnya terdapat pulau Samosir yang terbentuk karena adanya gaya up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir. Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan. Dia sudah tidak punya daya untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi. Ini terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Hanya Samosir yang terangkat karena daerah itu yang terlemah. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera. Sedangkan nenek moyang manusia modern, Homo sapiens, mulai muncul dan tinggal di kawasan Afrika 150.000-200.000 tahun lalu. Mereka mulai bermigrasi ke luar Afrika 70.000 tahun lalu dan menyebar ke seluruh dunia. Pada periode yang lebih kurang sama, 74.000 tahun lalu, terjadi letusan dahsyat Gunung Toba ini. Apabila dikaitkan dengan letusan Toba, temuan itu juga menunjukkan bahwa nenek moyang kita ternyata mampu bertahan dari bencana dahsyat yang berpotensi memusnahkan kehidupan. Skenario survival tersebut didukung bukti dari rekam jejak DNA pada populasi di kawasan Wallacea yang menunjukkan campuran gen dengan populasi dari kawasan Sunda Besar (yang sekarang dikenal sebagai kawasan Asia Tenggara). Selain itu, ada temuan fosil dan peninggalan manusia purba di Gua Niah, Sarawak. Dari umurnya, temuan Niah mengindikasikan bahwa manusia tidak musnah karena letusan Toba. Wallacea has two major biogeographical boundaries: Lydekker"s Line to the east and Wallace"s Line to the west. Exposed land during periods of low sea level (−120 metres) is lightly shaded. The arrow points to the Talepu Area. (Image: nature.com)     Enam Hal Mengerikan ini Akan Terjadi Jika Danau Toba Meletus Sekali Lagi Para ilmuwan sangat meyakini bahwa semua supervolcano yang ada di dunia termasuk Gunung Toba pasti akan meletus kembali. Namun tidak ada yang dapat memastikan dengan akurat kapan meletus kembali. Yang ada hanyalah perkiraan.   1. Jutaan Ton Asam Belerang Akan Membuat Dunia Gelap Total Dulu, dalam sekali hentakan erupsi, Gunung Toba kuno mampu memuntahkan jutaan ton asam belerang ke udara. Ketika ini terjadi, maka dunia akan dipenuhi dengan asap beracun yang seperti mencekik kerongkongan. Bahkan ketika ini terjadi di masa lalu, dunia tiba-tiba gelap seketika. Seperti ketika Sumatera dan Kalimantan terkena bencana asap, namun dengan tingkat yang lebih parah lagi. Bahkan momen kegelapan ini diperkirakan tak hilang dalam waktu beberapa tahun.   2. Kehidupan Akan Mati Tak hanya membuat dunia gelap dan polusi, erupsi Toba di masa lalu juga membuat kehidupan seakan berakhir. Bagaimana bisa? Ya, ternyata material erupsinya menyelimuti Bumi secara keseluruhan. Alhasil, sinar matahari terhalang total sehingga tidak mendukung kehidupan. Fotosintesis mati, tumbuhan layu seketika, hewan-hewan dan manusia akan mulai kehilangan waktu mereka. Dampak erupsi yang tak hanya sebentar pun berakibat matinya kehidupan. Skenario ini benar-benar terjadi di masa lalu.   3. Samudera Menjadi Sangat Dingin Seorang geolog dari New York University melakukan penelitian untuk mencari tahu bagaimana iklim Bumi di masa lalu. Ia pun melakukan penggalian di dasar laut dan menemukan sebuah benda bernama foraminifera. Dari sini ia pun terkejut bukan main, karena ini merupakan indikasi kalau dulu suhu Bumi sangat ekstrem. Penelitian ini pun dikembangkan termasuk dengan penemuan debu-debu fulkanis kuno di Greenland. Lewat penelitian ini akhirnya terkuak sebuah titik temu. Si peneliti yakin jika ada sebuah fenomena yang memicu suhu ekstrem ini. Dan pada akhirnya diketahui jika penyebabnya adalah erupsi Gunung Toba. Sang geolog juga menyebutkan jika gara-gara erupsi ini samudera seluruh dunia mengalami penurunan suhu sampai 5 derejat celcius. Hampir beku!   4. Cuaca Ekstrem Hingga Puluhan Tahun 74 ribu tahun lalu setelah tragedi ini, peneliti memperkirakan jika Bumi mengalami suhu super dingin. Jika samudera saja bisa sedingin itu, maka udara pun diperkirakan tak jauh beda. Cuaca seperti ini juga akan bertahan tak hanya satu atau dua bulan saja, tapi puluhan tahun! Dunia mungkin akan memasuki zaman es namun berbeda versi. Akibat letusan Toba, Bumi tak hanya membeku tapi juga gelap luar biasa. Takkan ada yang sanggup melewati ini, hingga akhirnya skenario ini bakal jadi akhir kehidupan makhluk hidup.   5. Danau Toba dan Pulau Samosir Lenyap Dampak dari letusan Toba di masa lalu adalah kaldera yang bisa kita lihat hari ini. Lalu bagaimana jika letusan yang identik seperti 74 ribu tahun lalu terjadi lagi? Mungkin Danau Toba dan Pulau Samosir akan lenyap, bahkan bisa saja Sumatera akan terbelah. Hal ini sangat mungkin karena Toba terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik. Saling tumbuk tiga lempeng ini menyebabkan subduksi atau penyusupan. Sehingga gara-gara ini eksistensi Danau Toba Sendiri jadi terancam. Saat erupsi sendiri pasti juga akan terjadi lontaran besar, di momen tersebut pasti juga akan mengakibatkan sebagian pulau Samosir terlempar.   6. Memicu Gunung Api Lain Gunung api memiliki jalur penghubung antara satu dan lainnya. Ketika satu bereaksi, maka yang lain pun akan terpicu. Seperti kasus beberapa waktu lalu ketika gunung-gunung api di Indonesia perlahan mulai bergantian aktif satu demi satu. Jika pemicunya adalah super volcano seperti Toba, maka sudah tentu yang lain juga akan terpengaruh lebih kuat. Setelah Toba meledak, maka kemungkinan besar deretan gunung yang berada pada jalur tektoniknya ikut erupsi pula. Jika gunung-gunung meletus bersamaan, maka tak terbayangkan ngerinya. Toba "Supervolcano" Lake and Samosir Island     Manusia Purba di Afrika Selatan Selamat Dari Ledakan Gunung Toba Awalnya peneliti yakin bahwa manusia purba di bumi bagian selatan dipastikan telah terpapar dengan abu vulkanik Gunung Toba, dan kemudian meninggal pelan-pelan. Sekarang fakta itu telah dipatahkan berkat penemuan ini. Manusia purba di Afrika Selatan selamat tanpa luka dari kehancuran letusan Gunung Toba, seperti yang dilansir dari Reuters. Ditemukannya bukti kegiatan sehari-hari manusia purba tetap berjalan seperti biasa Arkeolog melakukan penelitian di dua lokasi arkeologis pantai selatan di Afrika Selatan, ternyata menemukan bukti partikel atau serpihan vulkanik dari ledakan supervolcano Gunung Toba yang letaknya 9000 km di Timur. Kekuatan ledakan yang begitu luar biasa, membuat dunia mengalami "musim dingin gunung api" selama puluhan tahun. Selama periode itu, bumi mengalami pendinginan, ekosistem menjadi rusak, dan hampir seluruh tanaman di dunia mati. Permasalahan inilah yang harus dihadapi manusia purba. Sehingga sebagian besar dari mereka harus tewas karena kelaparan. Arkeolog menemukan sebuah tempat perlindungan dari batu yang digunakan manusia purba sebagai tempat tinggal, berumur 90 ribu hingga 50 ribu tahun lalu. Di sana peneliti tidak menemukan adanya upaya meninggalkan lokasi oleh manusia purba ketika erupsi terjadi. Bahkan mereka menyatakan kegiatan sehari-hari manusia purba berjalan seperti biasa tanpa adanya hambatan. Hal ini sungguh mengejutkan para peneliti. Karena serpihan abu vulkanik sendiri sudah berhasil mencapai lokasi, tetapi para manusia purba tetap menjalani hidup mereka sebagaimana mestinya.     Sangat Mungkin Populasi Manusia Purba Di Wilayah Lain Menderita Penemuan bukti baru ini memang telah mengejutkan banyak pihak. Hanya peneliti yakin bahwa sisa populasi yang berada di daerah sekitarnya, kondisi hidup mereka akan jauh berbeda dengan yang ada di sini. Menurut para arkeolog, manusia purba di pantai selatan itu dapat bertahan hidup. Karena sumber makanan mereka berasal dari laut, seperti ikan dan kerang-kerangan, ketimbang mereka yang hidup di tengah daratan yang membutuhkan tanaman, serta hewan untuk bertahan hidup. Kematian terbesar manusia purba tentunya disebabkan kelaparan luar biasa. Karena tidak ada makanan yang tersedia di alam (Terutama wilayah tengah daratan). Gelapnya dunia membuat tumbuhan tidak mendapatkan sinar cahaya matahari untuk bertahan hidu. Sehingga hampir semuanya mati. Sedangkan hewan herbivora yang sering diburu manusia, ikut mati karena tidak ada ketersediaan tanaman untuk dimakan. Manusia purba sendiri yang masih sangat sulit untuk beradapatasi, secara terpaksa harus bergerak atau mati di tempat.Bagi mereka yang berada di pantai, tentunya mendapatkan perlindungan khusus dari alam dan ekosistem laut yang bisa dikatakan cukup stabil. Tetapi kondisi cuaca yang ekstrem akibat letusan supervolcano, terkadang mereka juga harus berpindah tempat untuk mencari lokasi yang baru dan aman. Ledakan Supervolcano Gunung Toba terdahsyat selama 2 juta tahun terakhir Tercatat dalam sejarah perkembangan bumi, ledakan Gunung Toba merupakan ledakan gunung "supervolcano" terkuat dalam 2 juta tahun terakhir, dan belum ada yang dapat menandinginya hingga sekarang, dilansir dari Nationalgeographic. Pulau Sumatra yang terguncang akibat letusan Gunung Toba, membuat dunia memasuki era kegelapan yang begitu pekat. Abu vulkanik beterbangan di mana-mana. Hingga racun yang dapat membunuh baik hewan, tumbuhan, maupun manusia menyebar begitu luas. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menghindari ledakan gunung supervolcano itu. Meskipun begitu, dengan ditemukannya bukti konkret baru mengenai manusia purba yang selamat tanpa adanya luka di pantai selatan, Afrika Selatan, membuat teori dampak letusan Gunung Toba kembali diperdebatkan jauh lebih dalam. Sampai sekarang, peneliti masih menyelidiki lebih lanjut dampak sebenarnya dari ledakan Gunung "Supervolcano" Toba terhadap perkembangan bumi serta manusia. Bencana-bencana seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa diintevensi manusia. Ada pun alat-alat canggih yang ada sifatnya hanya memberikan peringatan, tidak mencegah. Letusannya bisa saja terjadi esok hari atau ribuan tahun lagi. Yang jelas suatu saat danau Toba yang tercipta akibat hasil dari letusan gunung Toba pasti akan meletus kembali. Jadi, jika bencana ini terjadi, maka sepertinya takkan ada harapan. Bahkan kata para peneliti, kehidupan takkan pernah mudah lagi ketika super volcano memuntahkan isinya. Dan yang perlu diingat lagi adalah, letusan gunung setara Gunung Krakatau atau sekelasnya yang dibilang dahsyat, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan letusan gunung setingkat SUPER VOLCANO, seperti Gunung Toba nan begitu luasnya hingga di tengahnya terdapat Pulau Samosir, yang berada di kordinat 0235′20.9″N 9848′34.8″E ini. Sumber : IndoCropCircle.com , wikipedia

 

 

Step By Step Belajar HTML 5

 

 

Artikel Lainnya :