(Bag 2) Mengapa Gempa Bumi Terus Terjadi di Indonesia

  Sabtu, 05 Januari 2019

200 sesar lainnya

yesnetijen.web.id - Di wilayah Indonesia ada sekitar 200 sesar atau patahan (fault) lainnya dan tak mungkin disebutkan satu-persatu. Diantaranya selain Sesar Sumatera atau disebut sebagai Sesar Semangka atau Sumatra Fault System (SFS) yang membentang sepanjang pulau, ada pula di selatannya yang membentang sejajar yaitu Sesar Mentawai, dan di selatannya barulah ada Zona Subduksi antara Lempeng India-Australia dan Eurasian.

Di Pulau Jawa terdapat sesar-sesar yang kebanyakan kecil, namun aktif dan tak kalah membahayakan karena pulau ini berpenduduk padat. Selain Sesar Lembang di utara Bandung, ada Sesar Cimandiri membentang dari baratdaya Pelabuhanratu ke arah timur laut hingga ke Bandung.

Di Jawa Tengah ada Sesar Muria dan Sesar Opak/Jogja, Sesar Pati, Sesar Lasem. Di Jawa Timur ada Sesar Grindulu, semuanya ada di darat dan membentang sejajar dari barat daya menuju ke timur laut.

Di Pulau Madura, Jawa Timur, selain Sesar Kambing yang membentang di selatan pulau itu, juga ada Sesar RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala) yang membentang di utara pulau Madura dari Pulau Salakadi timur, hingga ke Rembang di Pulau Jawa.


Sesar aktif di kawasan Indonesia.

Sementara itu sesar yang ada di Indonesia tengah dan timur adalah Sesar Flores di Laut Flores, Sesar Wetar memanjang dari barat ke timur di dekat pulau Wetar atau di utara Kepulauan NTT.

Di Pulau Sulawesi ada Sesar Walanea di Sulawesi Selatan memanjang ke selatan atau ke Laut Flores. Di Sulawesi Tengah ada Sesar Poso, Sesar Sausu, Sesar Budong-Budong, Sesar Bungadidi, Sesar Palolo Graben dan sesar-sesar kecil lainnya.

Di Sulawesi Tenggara ada Sesar Matano, Sesar Towuti, Sesar Lawanopo, Sesar Tolo. Di Sulawesi Barat ada Sesar Majene, Sesar Enrekang. Di Sulawesi Utara ada Sesar Gorontalo dan sesar-sesar kecil lainnya.

Di Pulau Papua selain Sesar Sorong ada pula Sesar Ransiki di kepala burung Papua, Sesar Manokwari di dekat Pulau Biak, dan beberapa sesar lainnya.

 

 

BMKG Minta Semua Pihak Waspadai Patahan Lembang

Sesar atau Patahan Lembang (Lembang Fault) adalah sesar geologis aktif dengan tingkat kemiringan 2 milimeter per tahun yang melintasi kota Lembang dan memiliki panjang 25 kilometer di utara cekungan Bandung.

Patahan Lembang yang memanjang sekitar 25 kilometer di utara Bandung menjadi potensi bencana besar yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Ancaman bahaya ini telah banyak dibahas para ahli. Semua pihak meminta agar pemerintah dan warga dapat mengantisipasi dan mengurangi dampak jika benar gempa bumi besar terjadi saat ada pergerakan di Patahan Lembang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan penjelas resmi tentang ancaman risiko gempa bumi itu. Mereka mengeluarkan rilis sejak Senin 14 Agustus 2017 silam, dan penjelasannya langsung dari Deputi Bidang Geofisika BMKG di kala itu, Muhammad Sadly.


Skenario gempa akibat Sesar Lembang / Patahan Lembang (Lembang Fault)

 Isinya, BMKG membenarkan bahwa di Bandung terdapat struktur Sesar Lembang dengan panjang jalur sesar mencapai 30 kilometer.

Hasil kajian menunjukkan bahwa laju pergeseran Sesar Lembang mencapai 5,0 mm/tahun. Hasil monitoring BMKG juga menunjukkan adanya beberapa aktivitas seismik dengan kekuatan kecil. Adanya potensi gempa bumi di jalur Patahan Lembang dengan magnitudo maksimum M=6,8 merupakan hasil kajian para ahli.

Hasil pemodelan peta tingkat guncangan (shakemap)oleh BMKG dengan skenario gempa dengan kekuatan M=6,8 dengan kedalaman hiposenter 10 km di zona Sesar Lembang menunjukkan bahwa dampak gempa dapat mencapai skala intensitas VII-VIII MMI.

Jika dideskripsikan, potensi kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat akan terjadi. Dinding tembok dapat lepas dari rangka, menara roboh, dan air menjadi keruh.

Sementara untuk bangunan sederhana nonstruktural dapat terjadi kerusakan berat hingga dapat menyebabkan bangunan roboh. Secara umum skala intensitas VII-VIII MMI dapat mengakibatkan terjadinya goncangan sangat kuat dengan kerusakan sedang hingga berat.


Sesar Lembang / Patahan Lembang (garis kuning) di dekat Bosscha Observatory (Sumber: Wikimapia)

Selain diintai potensi gempa bumi karena ada Sesar Lembang, 10 kecamatan di Kota Bandung rupanya juga berpotensi mengalami likuifaksi. Hal itu diungkapkan oleh Kasubid-1 Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappelitbang Kota Bandung, Andry Heru Santoso.

Dia mengatakan, hasil itu didapat berdasarkan penelitian antara Pemkot Bandung, ITB, dan United Nation yang dilakukan pada tahun 1990-2000. Sepuluh kecamatan di Kota Bandung yang berpotensi mengalami likuifaksi adalah:

  • Bandung Kulon
  • Babakan Ciparay
  • Bojongloa Kaler
  • Bojongloa Kidul
  • Astanaanyar
  • Regol
  • Lengkong
  • Bandung Kidul
  • Kiaracondong, dan
  • Antapani


Sesar Lembang / Patahan Lembang (Lembang Fault). Garis warna merah adalah Sesar Lembang atau Patahan Lembang (Lembang Fault) adalah sesar geologis aktif dengan tingkat kemiringan 2 milimeter per tahun yang melintasi kota Lembang dan memiliki panjang 30 kilometer di utara Cekungan Bandung atau Bandung Basin mulai dari Gunung Palasari hingga Cisarua.

 

 

Korban manusia dan infrastuktur

Di wilayah Indonesia, puluhan gempa besar dari ratusan gempa yang terasa dan tercatat, mungkin yang tak terasa berjumlah ribuan gempa, yang paling mematikan dan tercatat pada masa modern ada 8 gempa, yaitu:

  • Gempa Aceh pada 26 Desember 2004 yang berkekuatan 9,3 pada skala Richter, menyebabkan 180 ribu orang meninggal dengan kerugian Rp45 triliun dari total meninggal di seluruh negara yang terkena berjumlah 283.106 jiwa.
  • Gempa Jogjakarta pada 26 Mei 2006 menelan korban sebanyak sekitar 6000 jiwa.
  • Gempa Papua pada 25 Juni 1976 menelan korban sebanyak 5.422 jiwa (422 tewas, lebih 5000 hilang).
  • Gempa Flores pada 12 Desember 1992 menelan korban sebanyak minimal 2.500 tewas dan 500 luka-luka.
  • Gempa Ambon pada 17 Februari 1674 menelan korban lebih dari 2.322 jiwa.
  • Gempa Pulau Bali pada 20 Januari 1917 yang terjadi di daratan minimal menelan korban 1500 jiwa.
  • Gempa Palu / Donggala pada 22 September 2018 lalu, yang kuatnya 7.6 SR menyebabkan likuifaksi di bebeapa daerah dan menyebabkan longsornya tebing di dalam Teluk Palu yang menyebabkan tsunami dan menewaskan lebih dari 1500 orang.
  • Gempa Pulau Nias, Sumatera Utara pada 28 Maret 2005 menelan korban 1.346 jiwa.
  • Gempa Sumatera Barat / Padang pada 30 September 2009 yang terjadi dilepas pantai menelan korban 1.117 tewas, 1.214 terluka parah dan 1.688 luka ringan.


Titik episenter gempa-gempa di Pulau Lombok hanya di sepanjang tahun 2018. (sumber: USGS)

Sementara gempa di Pulau Lombok NTB yang terjadi hari Minggu 5 Agustus 2018 silam dengan magnitude 7 M telah menyebabkan lebih dari 98 korban meninggal di samping ribuan orang harus mengungsi.

Dan kemudian tak sampai dua bulan, disusul Gempa Palu Donggala pada 28 September 2018 bermagnitude 7.7 M yang diikuti oleh gelombang tsunami setinggi 3 – 11 meter yang terjadi di Donggala, Palu, Mamuji, Sigi dan sekitarnya.

Lebih dari 1700 korban meninggal, lebih dari 500 orang luka-luka di samping ribuan orang yang juga harus mengungsi. Jadi apakah kerugian, termasuk kerugian material seperti rumah, jalan, jembatan dsb, akan terus terjadi mengingat tingginya potensi terjadinya gempa di Indonesia?

"Masyarakat kita akan terus menjadi korban setiap terjadinya gempa karena kita juga tidak melihat langkah-langkah konkrit yang benar-benar, semacam juklak bagaimana membangun bangunan tahan gempa itu diedukasikan secara masif sehingga masyarakat kita benar-benar memahami dan kemudian mindset itu berubah," kata Dr Daryono.


Rentetan gempa-gempa yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 di Pulau Sulawesi daerah Donggala, Palu, Mamuji, Sigi dan sekitarnya yang kemudian memicu gelombang tsunami setinggi 3 meter (sumber: USGS)

Sementara kepadatan penduduk dan bangunan di Jawa dan Sumatra dibandingkan di bagian timur, menyebabkan lebih besar kemungkinan risiko korban dan kerusakan.

"Kalau kita lihat dari potensi hazard-nya, bahayanya, Indonesia timur itu dua kali lipat potensinya dibandingkan dengan wilayah barat, tetapi yang nama risiko itu kan juga mempertimbangkan keberadaan populasi dan infrasturktur. Untuk saat ini infrastruktur dan populasi kebanyakan di Jawa dan Sumatra, daerah Papua dan Maluku kan masih sedikit," kata ahli geologi LIPI, Danny Hilman.

 

 

Seharusnya bisa diwaspadai dan diantisipasi

Mengingat besarnya potensi dan risiko gempa di Indonesia dan telah panjang catatan sejarahnya, bukankah langkah pencegahan seharusnya sudah diambil?

Pemerintah mengatakan berbagai cara untuk mengantisipasi bencana alam ini telah dilakukan, termasuk dengan menggunakan teknologi tinggi.

"Sistem monitoring gempa bumi, sistem processing dan diseminasi penyebaran itu sudah sangat bagus, menggunakan teknologi yang. Dalam waktu kurang dari tiga menit itu sudah bisa mendapatkan informasi parameter gempa. Waktu gempa, kekuatan, kedalaman dan lokasinya. Kita juga bisa mengeluarkan peringatan dini tsunami dengan cepat," kata Daryono dari BMKG.


Tahun 2017, Indonesia telah merevisi peta seismic hazard dimana seluruh wilayah sudah dizonasi dan dikuantifikasi terkait seberapa besar potensi guncangan seismiknya.

"Berdasarkan peta itu seorang ahli sipil bisa mendisain struktur tahan gempa yang cocok untuk seluruh wilayah di Indonesia. Kalau semua orang, semua bangunan mengikuti, mematuhi peraturan yang ada, saya pikir nggak ada masalah kapan ada gempa terjadi karena yang paling berbahaya waktu gempa itu bukan gempanya tetapi bangunan yang roboh," kata Danny Hilman Natawidjaja dari LIPI.

Jadi mengapa masyarakat tetap menjadi korban setiap terjadi gempa, dengan adanya berbagai hal seperti teknologi tinggi dan kesiapan zonasi?


Animasi bergesernya lempeng-lempang tektonik benua Pangaea pada zaman Kapur Awal sekitar 150–140 juta tahun lalu. Sejak ini, pergeseran itu sudah menghasilkan gempa dan bahkan tsunami.

"Masih jauh urusan awareness, urusan pemahaman. Mereka belum siap. Kenapa mereka belum siap?

Mereka tidak tahu informasinya. Sangat sedikit masyarakat dari kami yang tahu. Tahu tentang itu wilayah gempa atau tahu disitu ada ancaman gempa, itu sangat sedikit.

"Mereka juga tidak tahu bagaimana cara untuk menanggulangi kalau itu terjadi," kata Hening Parlan dari Lembaga Lingkungan Hidup dan Bencana, Aisyiyah yang telah mengamati topik keberdayaan masyarakat dalam mengatasi bencana alam, seperti gempa selama 20 tahun.

Kita tak perlu takut, justru Tuhan mengharapkan kita untuk banyak belajar dan terus belajar dalam penanggulangan bencana alam termasuk gempa, agar kita dapat menjadi leaders dalam hal bencana gempa bumi di muka Bumi.

Lalu, ilmu yang kita dapatkan tersebut juga dapat kita disebarkan kepada wilayah lain bahkan ke negara lainnya. Selama ilmu tersebut selalu digunakan, maka yang menyebarkannya akan selalu mendapatkan pahala yang mengalir kepadanya. Semoga kita dapat lebih siap lagi dan dapat belajar lebih baik lagi serta dapat mengambil manfaatnya. (IndoCropCircles.com / USGS / AIR / BBC / berbagai sumber)

Sumber : IndoCropCircle.com / USGS / AIR / BBC / berbagai sumber



Buka File PDF Artikel     


Sebelumnya
(Bag 1) Mengapa Gempa Bumi Terus Terjadi di Indonesia
  Berikutnya
Misteri Letusan Gunung Toba (Supervolcano)

 

(0) Komentar

Beri komentar





Hanya komentar yang sudah di-approve admin yang tampil.

KESIMPULAN : 200 sesar lainnya yesnetijen.web.id - Di wilayah Indonesia ada sekitar 200 sesar atau patahan (fault) lainnya dan tak mungkin disebutkan satu-persatu. Diantaranya selain Sesar Sumatera atau disebut sebagai Sesar Semangka atau Sumatra Fault System (SFS) yang membentang sepanjang pulau, ada pula di selatannya yang membentang sejajar yaitu Sesar Mentawai, dan di selatannya barulah ada Zona Subduksi antara Lempeng India-Australia dan Eurasian. Di Pulau Jawa terdapat sesar-sesar yang kebanyakan kecil, namun aktif dan tak kalah membahayakan karena pulau ini berpenduduk padat. Selain Sesar Lembang di utara Bandung, ada Sesar Cimandiri membentang dari baratdaya Pelabuhanratu ke arah timur laut hingga ke Bandung. Di Jawa Tengah ada Sesar Muria dan Sesar Opak/Jogja, Sesar Pati, Sesar Lasem. Di Jawa Timur ada Sesar Grindulu, semuanya ada di darat dan membentang sejajar dari barat daya menuju ke timur laut. Di Pulau Madura, Jawa Timur, selain Sesar Kambing yang membentang di selatan pulau itu, juga ada Sesar RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala) yang membentang di utara pulau Madura dari Pulau Salakadi timur, hingga ke Rembang di Pulau Jawa. Sesar aktif di kawasan Indonesia. Sementara itu sesar yang ada di Indonesia tengah dan timur adalah Sesar Flores di Laut Flores, Sesar Wetar memanjang dari barat ke timur di dekat pulau Wetar atau di utara Kepulauan NTT. Di Pulau Sulawesi ada Sesar Walanea di Sulawesi Selatan memanjang ke selatan atau ke Laut Flores. Di Sulawesi Tengah ada Sesar Poso, Sesar Sausu, Sesar Budong-Budong, Sesar Bungadidi, Sesar Palolo Graben dan sesar-sesar kecil lainnya. Di Sulawesi Tenggara ada Sesar Matano, Sesar Towuti, Sesar Lawanopo, Sesar Tolo. Di Sulawesi Barat ada Sesar Majene, Sesar Enrekang. Di Sulawesi Utara ada Sesar Gorontalo dan sesar-sesar kecil lainnya. Di Pulau Papua selain Sesar Sorong ada pula Sesar Ransiki di kepala burung Papua, Sesar Manokwari di dekat Pulau Biak, dan beberapa sesar lainnya.     BMKG Minta Semua Pihak Waspadai Patahan Lembang Sesar atau Patahan Lembang (Lembang Fault) adalah sesar geologis aktif dengan tingkat kemiringan 2 milimeter per tahun yang melintasi kota Lembang dan memiliki panjang 25 kilometer di utara cekungan Bandung. Patahan Lembang yang memanjang sekitar 25 kilometer di utara Bandung menjadi potensi bencana besar yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Ancaman bahaya ini telah banyak dibahas para ahli. Semua pihak meminta agar pemerintah dan warga dapat mengantisipasi dan mengurangi dampak jika benar gempa bumi besar terjadi saat ada pergerakan di Patahan Lembang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan penjelas resmi tentang ancaman risiko gempa bumi itu. Mereka mengeluarkan rilis sejak Senin 14 Agustus 2017 silam, dan penjelasannya langsung dari Deputi Bidang Geofisika BMKG di kala itu, Muhammad Sadly. Skenario gempa akibat Sesar Lembang / Patahan Lembang (Lembang Fault)  Isinya, BMKG membenarkan bahwa di Bandung terdapat struktur Sesar Lembang dengan panjang jalur sesar mencapai 30 kilometer. Hasil kajian menunjukkan bahwa laju pergeseran Sesar Lembang mencapai 5,0 mm/tahun. Hasil monitoring BMKG juga menunjukkan adanya beberapa aktivitas seismik dengan kekuatan kecil. Adanya potensi gempa bumi di jalur Patahan Lembang dengan magnitudo maksimum M=6,8 merupakan hasil kajian para ahli. Hasil pemodelan peta tingkat guncangan (shakemap)oleh BMKG dengan skenario gempa dengan kekuatan M=6,8 dengan kedalaman hiposenter 10 km di zona Sesar Lembang menunjukkan bahwa dampak gempa dapat mencapai skala intensitas VII-VIII MMI. Jika dideskripsikan, potensi kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat akan terjadi. Dinding tembok dapat lepas dari rangka, menara roboh, dan air menjadi keruh. Sementara untuk bangunan sederhana nonstruktural dapat terjadi kerusakan berat hingga dapat menyebabkan bangunan roboh. Secara umum skala intensitas VII-VIII MMI dapat mengakibatkan terjadinya goncangan sangat kuat dengan kerusakan sedang hingga berat. Sesar Lembang / Patahan Lembang (garis kuning) di dekat Bosscha Observatory (Sumber: Wikimapia) Selain diintai potensi gempa bumi karena ada Sesar Lembang, 10 kecamatan di Kota Bandung rupanya juga berpotensi mengalami likuifaksi. Hal itu diungkapkan oleh Kasubid-1 Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappelitbang Kota Bandung, Andry Heru Santoso. Dia mengatakan, hasil itu didapat berdasarkan penelitian antara Pemkot Bandung, ITB, dan United Nation yang dilakukan pada tahun 1990-2000. Sepuluh kecamatan di Kota Bandung yang berpotensi mengalami likuifaksi adalah: Bandung Kulon Babakan Ciparay Bojongloa Kaler Bojongloa Kidul Astanaanyar Regol Lengkong Bandung Kidul Kiaracondong, dan Antapani Sesar Lembang / Patahan Lembang (Lembang Fault). Garis warna merah adalah Sesar Lembang atau Patahan Lembang (Lembang Fault) adalah sesar geologis aktif dengan tingkat kemiringan 2 milimeter per tahun yang melintasi kota Lembang dan memiliki panjang 30 kilometer di utara Cekungan Bandung atau Bandung Basin mulai dari Gunung Palasari hingga Cisarua.     Korban manusia dan infrastuktur Di wilayah Indonesia, puluhan gempa besar dari ratusan gempa yang terasa dan tercatat, mungkin yang tak terasa berjumlah ribuan gempa, yang paling mematikan dan tercatat pada masa modern ada 8 gempa, yaitu: Gempa Aceh pada 26 Desember 2004 yang berkekuatan 9,3 pada skala Richter, menyebabkan 180 ribu orang meninggal dengan kerugian Rp45 triliun dari total meninggal di seluruh negara yang terkena berjumlah 283.106 jiwa. Gempa Jogjakarta pada 26 Mei 2006 menelan korban sebanyak sekitar 6000 jiwa. Gempa Papua pada 25 Juni 1976 menelan korban sebanyak 5.422 jiwa (422 tewas, lebih 5000 hilang). Gempa Flores pada 12 Desember 1992 menelan korban sebanyak minimal 2.500 tewas dan 500 luka-luka. Gempa Ambon pada 17 Februari 1674 menelan korban lebih dari 2.322 jiwa. Gempa Pulau Bali pada 20 Januari 1917 yang terjadi di daratan minimal menelan korban 1500 jiwa. Gempa Palu / Donggala pada 22 September 2018 lalu, yang kuatnya 7.6 SR menyebabkan likuifaksi di bebeapa daerah dan menyebabkan longsornya tebing di dalam Teluk Palu yang menyebabkan tsunami dan menewaskan lebih dari 1500 orang. Gempa Pulau Nias, Sumatera Utara pada 28 Maret 2005 menelan korban 1.346 jiwa. Gempa Sumatera Barat / Padang pada 30 September 2009 yang terjadi dilepas pantai menelan korban 1.117 tewas, 1.214 terluka parah dan 1.688 luka ringan. Titik episenter gempa-gempa di Pulau Lombok hanya di sepanjang tahun 2018. (sumber: USGS) Sementara gempa di Pulau Lombok NTB yang terjadi hari Minggu 5 Agustus 2018 silam dengan magnitude 7 M telah menyebabkan lebih dari 98 korban meninggal di samping ribuan orang harus mengungsi. Dan kemudian tak sampai dua bulan, disusul Gempa Palu Donggala pada 28 September 2018 bermagnitude 7.7 M yang diikuti oleh gelombang tsunami setinggi 3 – 11 meter yang terjadi di Donggala, Palu, Mamuji, Sigi dan sekitarnya. Lebih dari 1700 korban meninggal, lebih dari 500 orang luka-luka di samping ribuan orang yang juga harus mengungsi. Jadi apakah kerugian, termasuk kerugian material seperti rumah, jalan, jembatan dsb, akan terus terjadi mengingat tingginya potensi terjadinya gempa di Indonesia? "Masyarakat kita akan terus menjadi korban setiap terjadinya gempa karena kita juga tidak melihat langkah-langkah konkrit yang benar-benar, semacam juklak bagaimana membangun bangunan tahan gempa itu diedukasikan secara masif sehingga masyarakat kita benar-benar memahami dan kemudian mindset itu berubah," kata Dr Daryono. Rentetan gempa-gempa yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 di Pulau Sulawesi daerah Donggala, Palu, Mamuji, Sigi dan sekitarnya yang kemudian memicu gelombang tsunami setinggi 3 meter (sumber: USGS) Sementara kepadatan penduduk dan bangunan di Jawa dan Sumatra dibandingkan di bagian timur, menyebabkan lebih besar kemungkinan risiko korban dan kerusakan. "Kalau kita lihat dari potensi hazard-nya, bahayanya, Indonesia timur itu dua kali lipat potensinya dibandingkan dengan wilayah barat, tetapi yang nama risiko itu kan juga mempertimbangkan keberadaan populasi dan infrasturktur. Untuk saat ini infrastruktur dan populasi kebanyakan di Jawa dan Sumatra, daerah Papua dan Maluku kan masih sedikit," kata ahli geologi LIPI, Danny Hilman.     Seharusnya bisa diwaspadai dan diantisipasi Mengingat besarnya potensi dan risiko gempa di Indonesia dan telah panjang catatan sejarahnya, bukankah langkah pencegahan seharusnya sudah diambil? Pemerintah mengatakan berbagai cara untuk mengantisipasi bencana alam ini telah dilakukan, termasuk dengan menggunakan teknologi tinggi. "Sistem monitoring gempa bumi, sistem processing dan diseminasi penyebaran itu sudah sangat bagus, menggunakan teknologi yang. Dalam waktu kurang dari tiga menit itu sudah bisa mendapatkan informasi parameter gempa. Waktu gempa, kekuatan, kedalaman dan lokasinya. Kita juga bisa mengeluarkan peringatan dini tsunami dengan cepat," kata Daryono dari BMKG. Tahun 2017, Indonesia telah merevisi peta seismic hazard dimana seluruh wilayah sudah dizonasi dan dikuantifikasi terkait seberapa besar potensi guncangan seismiknya. "Berdasarkan peta itu seorang ahli sipil bisa mendisain struktur tahan gempa yang cocok untuk seluruh wilayah di Indonesia. Kalau semua orang, semua bangunan mengikuti, mematuhi peraturan yang ada, saya pikir nggak ada masalah kapan ada gempa terjadi karena yang paling berbahaya waktu gempa itu bukan gempanya tetapi bangunan yang roboh," kata Danny Hilman Natawidjaja dari LIPI. Jadi mengapa masyarakat tetap menjadi korban setiap terjadi gempa, dengan adanya berbagai hal seperti teknologi tinggi dan kesiapan zonasi? Animasi bergesernya lempeng-lempang tektonik benua Pangaea pada zaman Kapur Awal sekitar 150–140 juta tahun lalu. Sejak ini, pergeseran itu sudah menghasilkan gempa dan bahkan tsunami. "Masih jauh urusan awareness, urusan pemahaman. Mereka belum siap. Kenapa mereka belum siap? Mereka tidak tahu informasinya. Sangat sedikit masyarakat dari kami yang tahu. Tahu tentang itu wilayah gempa atau tahu disitu ada ancaman gempa, itu sangat sedikit. "Mereka juga tidak tahu bagaimana cara untuk menanggulangi kalau itu terjadi," kata Hening Parlan dari Lembaga Lingkungan Hidup dan Bencana, Aisyiyah yang telah mengamati topik keberdayaan masyarakat dalam mengatasi bencana alam, seperti gempa selama 20 tahun. Kita tak perlu takut, justru Tuhan mengharapkan kita untuk banyak belajar dan terus belajar dalam penanggulangan bencana alam termasuk gempa, agar kita dapat menjadi leaders dalam hal bencana gempa bumi di muka Bumi. Lalu, ilmu yang kita dapatkan tersebut juga dapat kita disebarkan kepada wilayah lain bahkan ke negara lainnya. Selama ilmu tersebut selalu digunakan, maka yang menyebarkannya akan selalu mendapatkan pahala yang mengalir kepadanya. Semoga kita dapat lebih siap lagi dan dapat belajar lebih baik lagi serta dapat mengambil manfaatnya. (IndoCropCircles.com / USGS / AIR / BBC / berbagai sumber) Sumber : IndoCropCircle.com / USGS / AIR / BBC / berbagai sumber

 

 

Step By Step Belajar HTML 5

 

 

Artikel Lainnya :