(Bag4 Ambon) Sejumlah Kerusuhan di Indonesia

  Selasa, 27 November 2018

Kerusuhan Ambon

yesnetijen.web.id - Peristiwa kerusuhan di Ambon (Maluku) diawali dengan terjadinya perkelahian antara salah seorang pemuda Kristen asal Ambon yang bernama J.L, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkot dengan seorang pemuda Islam asal Bugis, NS, penganggur yang sering mabuk-mabukan dan sering melakukan pemalakan (istilah Ambon "patah" ) khususnya terhadap setiap sopir angkot yang melewati jalur Pasar Mardika Batu Merah.

Saat itu tanggal 19 Januari 1999, masih dalam hari raya Idul Fitri (hari kedua), pemuda Bugis NS bersama temannya seorang pemuda Bugis lain bernama T, melakukan pemalakan di Batu Merah terhadap pemuda Kristen J.L selama beberapa kali ketika J.L mengendari angkotnya dari jurusan Mardika Batu Merah. Namun permintaan kedua pemuda Bugis tersebut tidak dilayaninya, karena J.L belum mempunyai uang, mengingat belum ada penumpang yang dapat diangkutnya, karena hari itu hari raya Idul Fitri.

illustrasi

Permintaan dengan desakan yang sama dilakukan oleh pemuda NS hingga kali yang ketiga saat pemuda Ambon J.L berada di terminal Batu Merah, malah pemuda Bugis NS tidak segan-segan mengeluarkan badiknya untuk menikam pemuda Ambon J.L. Untunglah J.L sempat menangkisnya dengan mendorong pintu mobilnya.

Merasa dirinya terancam, pemuda J.L langsung pulang ke rumahnya mengambil parang (golok) dan kembali ke terminal Batu Merah. Disana ia masih menemukan pemuda Bugis NS bersama temannya T. Ia kemudian memburunya, dan NS kemudian berlari masuk ke kompleks pasar Desa Batu Merah.

NS kemudian ditahan oleh warga Batu Merah, dan ketika ia ditanya apa permaslahannya, maka ia (NS) menjawab bahwa, "ia akan dibunuh oleh orang Kristen". Beberapa saat berselang atau sekitar 5 menit setelah peristiwa saling kejar-mengejar antara pemuda Muslim asal Bugis, NS dengan pemuda Kristen asal Ambon J.L, seperti ada komando, kerusuhan akhirnya pecah dimana-mana dalam kota Ambon.

Kira-kira jam 15.00 WIT ratusan masa Muslim muncul dari Desa Batu Merah (lokasi dimana pemuda Bugis NS dikejar dan berteriak akan dibunuh oleh oleh orang Kristen) bangkit menyerang warga Kristen di kawasan Mardika (tetangga desa Batu merah) dengan menggunakan berbagai alat tajam (parang, panah, tombak dan lain-lain) dengan seragam dan berikat kepala putih. Mereka sempat melukai, merusak dan mebakar rumah-rumah warga Kristen Mardika. Demikian juga pada waktu yang bersamaan, beberapa lokasi pemukiman Kristen seperti Galunggung, Tanah Rata, Kampung Ohiu, Silale dan Waihaong ikut diserang oleh kelompok penyerang Muslim. Beberapa orang warga Kristen terbunuh, ratusan rumah dibakar dan sebuah gereja yang terletak di kawasan Silale dirusak dan akhirnya dibakar oleh masa.

Dari lokasi-lokasi ini, kerusuhan berlanjut terus dan hanya berbeda waktu beberapa menit dari lokasi ke lokasi yang lain.


Warga Kristen yang mendiami lokasi Batu Gantung , Kudamati dan sekitarnya setelah mendengar penyerangan yang dilakukan oleh masa Muslim terhadap warga Kristen di Mardika, Galunggung, Kampung Ohiu, Waihaong dan Silale serta mendengar isu gereja Silale telah terbakar, bangkit amarahnya dan memberikan serangan balasan terhadap warga Muslim melalui pengrusakan dan pembakaran rumah-rumah di kawasan Batu Gantung dan Kompleks Pohon Beringin, serta melakukan pengrusakan dan pembakaran terhadap berbagai kendaraan seperti becak, sepeda motor dan mobil.

Beberapa lokasi di dalam wilayah kota Ambon terus berkecamuk. Di lokasi Pohon Puleh, Tugu Trikora dan Anthony Rhebok hingga tengah malam tanggal 19 januari 1999, terlihat masa diantara kedua kubu saling berhadap-hadapan dan mencoba untuk saling melakukan penyerangan dengan pelemparan batu yang diteruskan dengan pengrusakan dan pembakaran sejumlah rumah diantara kedua belah pihak, pembakaran kendaraan (becak, sepeda motor dan mobil) dan pembakaran sebuah sekolah Al Hilal di Jl. Anthony Rhebok. Sementara itu di kawasan Batu Merah Tanjung yang dihuni oleh mayoritas warga Muslim, terjadi pengrusakan, pembakaran terhadap rumah-rumah dan pembantaian terhadap beberapa warga Kristen. Di lokasi inipun sebuah gereja sempat dirusak kemudian dibakar oleh masa Muslim. Sedangkan di lokasi Puleh (Karang Panjang) warga Kristen sempat merusak dan membakar rumah-rumah warga Muslim, demikian juga sebuah mesjid yang terletak di lokasi ini.

Menjelang pagi hari tanggal 20 Januari 1999, terjadi penyerangan secara besar-besaran yang dilakukan oleh warga Kristen terhadap kompleks Pasar Gambus, kompleks Pasar Mardika dan kompleks Pasar Pelita yang berada di tengah-tengah jantung kota. Penyerangan ini dimulai dengan kosentrasi masa Muslim disekitar Jl. A. J. Patty menuju ke lapangan Merdeka Ambon yang diduga akan melakukan penyerangan ke gereja Maranatha (gereja Pusat Ambon).

Masa Kristen yang berada di sekitar kompleks gereja Maranatha merasa terancam, akhirnya melakukan penyerangan ke lokasi tersebut yang merupakan daerah yang mayoritas dihuni oleh warga muslim dengan jalan membakar habis kompleks tersebut. Diperkirakan banyak korban yang meninggal, karena terjebak kebakaran yang hingga saat ini sulit teridentifikasi.



Pecahnya kerusuhan Ambon tanggal 19 Januari 1999 akhirnya melebar keluar kota Ambon. Pada tanggal 20 Januari 1999, kira-kira jam 09.00 WIT, warga Muslim jazirah Leihitu yang terletak bagian barat dan utara Pulau Ambon mulai bergerak dengan sasaran menuju kota Ambon. Menurut data yang ditemukan di lapangan , tujuan mereka bergerak menuju kota Ambon karena adanya isu bahwa mesjid Al-Fatah di kota Ambon telah dibakar oleh orang-orang Kristen. Selain itu juga ada data yang mengungkapkan bahwa tujuan mereka ke Ambon adalah dalam rangka silahturahmi berkenan dengan hari raya idul fitri.

Ketika mereka mulai bergerak pada tanggal 20 Januari 1999, sedikitnya ada 3 pasukan penyerang. Pasukan pertama terdiri dari warga Muslim desa Hitu, Mamala, Morela dan sebagian lagi warga Desa Wakal yang melakukan penghancuran terhadap warga Desa/Dusun Kristen Telaga Kodok, Benteng Karang, Hunuth/Durian Patah, Waiheru, Nania dan Negeri Lama.

warning dp pict


Menurut data yang peroleh di lapangan beberapa saat setelah terjadi penyerangan dan pembantaian pasukan pertama dan pasukan kedua di lokasi-lokasi yang disebut di atas, warga Desa Hila Islam menyerang dan membumi hanguskan Dusun Hila Kristen yang sebenarnya dari segi adat istiadat dan budaya masih mempunyai hubungan keluarga. Penyerangan ini mengakibatkan seluruh rumah-rumah warga Kristen di Dusun ini terbakar termasuk 1 (satu) buah Gereja tua yang mempunyai nilai sejarah, 1 (satu) orang dibunuh dan dibakar serta 2 (dua) orang lainnya mengalami luku-luka. Warga Kristen Dusun ini terpaksa harus mengungsi dengan berjalan kaki melewati gunung (ada yang sampai dua hari perjalanan untuk tiba ditempat pengungsian yaitu Desa Hative Besar).v Dalam perjalanan pengungsian ini mereka juga ditolong saudara-saudaranya dari Desa Kaitetu yang beragama Muslim.

Kerusuhan demi kerusuhan di Pulau Ambon pada akhirnya bersangkut paut dengan sikap toleransi warga yang berdomesili di Pulau Ambon. Sementara isu pertikaian yang bernuasa SARA semakin dipertajam sehingga menimbulkan panatisme antara masing-masing umat beragama. Berkenaan dengan itu maka pada tanggal 21 Januari 1999 warga Kristen yang berdomisili di Batu Gajah Dalam mendengar terbunuhnya 2 (dua) orang pendeta dan pembakaraan beberapa buah gereja dalam penyerangan yang dilakukan oleh warga Muslim dari jasirah Leihitu kemudian bangkit menyerang warga Muslim Dusun Batu Bulan dan membantai sejumlah warganya.



Dari data di lapangan terungkap 150 buah rumah dibakar/dirusak, 5 (lima) orang dibunuh dan 1 (satu) buah Mesjid terbakar. Demikian juga pada tanggal yang sama warga Kristen yang berdomesili di Batu Gantung Dalam (Kampung Ganemo), Mangga Dua, Kudamati ikut melakukan penyerangan terhadap warga Muslim yang berada di sekitarnya. Dalam penyerangan ini 8 (delapan) orang meninggal dunia.. 5 (lima) orang warga Muslim diantaranya dibantai kemudian dibakar bersama mobil truk yang mengangkutnya di kawasan Mangga Dua karena diduga sebagai propokator dan membawa bahan peledak.

Sementara itu di kawasan Desa Hative Besar Kotamadya Ambon terjadi penyerangan dari warga Muslim asal Buton, Bugis dan Makasar dari Dusun Wailete yang berada di bawah wilayah Desa Hative Besar yang mengakibatkan puluhan rumah warga Kristen Desa Hative Besar terbakar.

Peristiwa ini selain dipicu oleh dampak kerusuhan Ambon tanggal 19 Januari 1999, juga diakibatkan oleh dendam lama yaitu peristiwa kerusuhan yang terjadi pada bulan Nopermber 1998. Tindakan penyerangan warga Dusun Wailete tersebut dibalas oleh warga Kristen Desa Hative Besar yang membakar habis lokasi pemukiman mereka. Akibat Peristiwa ini ratusan rumah terbakar dan 4 (empat) orang Warga Muslim Meninggal, 1 buah Mesjid dan 1 buah Mushola terbakar.


sbrnya masi panjang kronologisnya, tp terpaksa saya cutdisini.

 

 

Analisa

Fakta-fakta di lapangan seperti mudahnya konsentrasi massa terjadi dalam jumlah yang masive di berbagai tempat dalam waktu yang bersamaan, rangkaian peristiwa yang begitu cepat dari satu tempat ke tempat-tampat lain dengan isue-isue yang provokatif, bahkan peritiwa tangggal 19 Januari yang mengawali kerusuhan lanjutan pada keesokan harinya terjadi di tempat yang berbeda dalam tempo yang hampir bersamaan, membuat kita jadi patut bertanya apakah peristiwa-peristiwa tersebut merupakan rangkaian kejadian terencana ?

Peristiwa Ambon sebagai suatu rangkaian peristiwa dapat dilihat dari tiga tahapan sebagai berikut :

 

I. Prakondisi

Pertentangan antar kelompok yang melibatkan sentimen agama sebagai isu berakibat pada meletusnya kerusushan pada tanggal 19 hingga 23 Januari 1999.

Sebagai suatu kondisi psikologis maupun yang pernah mengemuka menjadi konflik terbuka antar kelompok agama memang realitas yamg rupanya telah lama terdapat di dalam masyarakat. Bukti-bukti untuk hal ini adalah kejadian-kejadian yang sebelum peristiwa kerusuhan bulan Januari ini terjadi. Yakni misalnya pertikaian yang terjadi pada tanggal 3 Maret 1995 antar warga desa Kelang Asaude dan warga desa Tumalehu, peristiwa serupa terjadi juga pada tanggal 21 Februari 1996.

Fakta-fakta tersebut di atas menujukan bahwa dari kondisi obyektif menunjukan adanya konflik yang bersifat lokal dan sesekali menjadi suatu pertentangan terbuka. Situasi inilah yang juga mulai nampak dimainkan dan mengemuka pada masa mendekati waktu kerusuhan terjadi dalam aktivitas-aktivitas sebagai berikut :

  1. Pada tanggal 15 Januari di kecamatan Dobo telah terjadi perkelahian antar kelompok yang mengatasnamakan agama. Hal serupa terjadi juga di wilayah Wailete dan Bak Air.
  2. pada pertengahan bulan Januari telah berkembang isu konflik antar agama dan bahaya saling menyerang.penyebaran isu melalui beredarnya selebaran di kalangan kelompok-kelompok yang bertikai.selebaran berisi berbagai informasi yang mempertajam sentimen agama.
  3. adanya mobilisasi kelompok-kelompok massa tertentu dari luar daerah Ambon menjelang dan ketika kerusuhan.

 


II. Peristiwa Kerusuhan Tanggal 19-23 Januari

Kerusuhan dicetus (trigering factor) ditiga wilayah sekaligus : Simpang Tiga antara Batu Merah-Amantelu dan Galunggung, Jalan depan Gereja Silo dandaerah Rajali.

Peristiwa perkelahian antara seorang sopir dan preman di Simpang Tiga antara Batu Merah, Amantelu dan Galunggung justru adalah sebuah peristiwa yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang secara sangat cepat berubah menjadi pertikaian antar kelompok agama.Pada saat yang sama ditempat yang berbeda-beda, ternyata konsentrasi massa terjadi pula dengan isu pertikaian agama, dan dugaan akan terjadinya penyerangan oleh kelompok lain, seperti dikalangan Kristen beredar isu bahwa ada sebuah gereja dibakar, sementara dikalangan Islam juga telah beredar bahwa masjid Al-Fatah juga telah dibakar. Padahal, pada saat itu apa yang diberitakan tersebut tidak terjadi kebakaran pada obyek yang disebutkan.

Kerusuhan tanggal 19 Januari terjadi begitu cepat dan menyebar dalam konsentrasi massa dalam jumlah yang cukup besar di beberapa tempat antara pukul 15.30-16.45 WITA.

Konsentrasi massa dalam jumlah besar berada di Silo dengan lima sampai enam ribu orang, akibat isu akan memperoleh serangan dan telah terhadi pembakaran gereja, sehingga harus merespon dan mempertahankan diri. Dalam jumlah yang cukup besar terjadi pula di daerah Mahardika, Rijali, Waringin, Kudamati, AR .Sarobar, Way Haung dan beberapa tempat lain. Massa juga berkonsentrasi untuk mengajukan konvirmasi isu penyerangantempat beribadah tersebut. Konsentrasi itu, berubah secara mendadak menjadi kerusuhan, berupa perusakan dan penyerangan antar kelompok terjadi dengan lokasi di berbagai tempat di hampir seluruh kota Ambon. Perusakan atau pembakaran mengarah pada tempat-tempat ibadah baik masjid maupun gereja, rumah-rumah penduduk dan pertokoan serta pasar.

Tanggal 20 Januari, berkembang isu masjid AL-Fatah terbakar. Hal itu berakibat reaksi massa dari Hila secara serentak berjalan menuju kota Ambon dan terseret ke dalam kerusuhan dan penyerangan. Beberapa laporan menunjukan adanya kelompok asing mempengaruhi akselerasi massa dengan bantuan alat komunikasi berupa HT dan handphone serta membawa senjata api. Aparat melakukan reaksi yang sama terjadi sebagaimana pada sebelumnya.

Perusakan dilakukan secara bergelombang oleh kelompok-kelompok massa dengan para pemimpinnya yang mengorganisasi gerak massa maupun memprovokasinya dengan memanfaatkan sentimen agama dan suku. Yang aneh dalam provokasi tersebut terdapat kata-kata dan istilah yang tidak lazim digunakan di Ambon, seperti sebutan nasrani dan bukan nasrani, atau bahkan selebaran dengan bahasa Arab yang ditulis dengan tidak benar, grafiti yang ditinggalkan dalam aksi perusakan yang tidak lazim atau janggal untuk masyarakat Ambon, dan lain-lain.

 

 

III. Kejanggalan-kejanggalan dalam Kerusuhan Ambon

Kerusakan total hampir terjadi di setiap sudut kota Ambon. Namun dari sinipun terlihat beberapa hal yang janggal : yakni, rupanya pada saat kerusuhan terjadi telah dilakukan pemilihan sasran perusakan maupun pembakaran. Hal ini terbukti dari adanya beberapa bangunan seperti Swalayan Matahari yang utuh tak tersentuh perusuh, sementara hampirseluruh bangunan disekelilingnya rusak total. Hal sejenis terjadi di pertokoan-pertokoan tertentu lainnya.

 

Slebaran-slebaran dan adu domba.

Pada tanggal 2 Februari ini slebaran yang menyatakan adanya isu pertentangan kembali muncul. Di kalangan Islam beredar isu akan adanya Kristenisasi, sedangkan dikalangan Kristen beredar isu akan adanya serangan balasan.

Ditengah situasi demikian, lima orang menteri termasuk Menhankam/Pangab Jendral Wiranto melakukan kunjungan ke Ambon dan mengajak pada semua pihak untuk menyelesaikan masalah. Namun demikiaan upaya pengungkapan kasus dan penangan terhadap paska kerusuhan ini pun masih terasa lamban. Ditambah pernyataan dari pihak keamanan yang tidak secara transparan memberikan klarifikasi sehingga kini masih menyisakan banyak pertanyaan mengenai peristiwa berdarah tersebut.

 

Pemindahan dan penarikan pos penjagaan Kariu oleh pihak keamanan yang dilanjutkan dengan pembakaran.

Tanggal 13 Januari 1999 terjadi peristiwa yang bermula dari suatu kejanggalan dengan dicabutnya sebuah pos penjagaan di desa Kariu oleh seorang Komandan Regu Kostrad bernama S. Dan dipindahkan ke dusun Nanaca. Sebelumnya, telah pula terjadi beberapa keanehan dengan dilarangnya warga Kariu masuk ke daerah Kailolo, dan ini diketahui oleh aparat keamanan.

Tanggal 14 Februari , sekitar pukul 03.00 WITA listrik di desa Kariu padam dan sekitar pukul 03.00 WITA ada rumah masyarakat Kariu dibakar. Posisi rumah yang pertama di bakar itu ada di Pilou dan Kariu.

Sekitar pukul 06.00 WITA desa Kariu diserang oleh kelompok Islam dari desa Kariu, Ori, dan delapan desa Islam di sekitarnya. Pada saat penyerangan, pihak aparat yang dipimpin oleh Danru S ikut serta dengan mencopot seragam dan menggantikannya dengan pakaian sipil dengan sorban putih. Pada senjata mereka pun diikat dengan kain putih.

Sekitar jam 08.00 tanggal 14 Februari, masyarakat Hulaliu melihat adanya asap kebakaran di desa Kariu dan mereka bermaksud datang untukmenolong. Namun diperbatasan desa Ori mereka dihadang oleh pasukan dari Kostrad yang telah membentuk formasi untuk mengepung dan mengembalikan mereka ke Halaliu.

Hasil dari peristiwa ini, pukul 15.00 WITA gereja GPM dibakar massa, padahal gereja ini mereka titipkan kepada aparat keamanan dalam keadaan masih utuh. Di desa Kariu 2 gereja juga habis terbakar

 

 

Fakta korban

Laporan yang diterima juga menyiratkan gambaran yang aneh mengenai korban kerusuhan, seperti yang terjadi dalam peristiwa Waruku didesa Hulaliu, dari 12 korban yang meninggal 10 diantaranya diakibatkan oleh luka tembak termasuk sejumlah permpuan, 1 orang luka panah dan satu orang terbakar. Begitupun jenis luka, dari 34 korban luka, 24 diantaranya adalah luka tembak, 3 luka akibat bom, 4 akibat panah dan akibat potong.


Sumber : kaskus.co.id/thread/kerusuhan-kerusuhan-sipil-di-indonesia



Buka File PDF Artikel     


Sebelumnya
(Bag3 Tasikmalaya) Sejumlah Kerusuhan di Indonesia
  Berikutnya
Mengenal Wilbur Glenn Voliva, Pendukung Terkemuka Teori Bumi Datar

 

(1) Komentar

avatar user

rr19 Feb 2019

serem ngeri

Beri komentar





Hanya komentar yang sudah di-approve admin yang tampil.

KESIMPULAN : Kerusuhan Ambon yesnetijen.web.id - Peristiwa kerusuhan di Ambon (Maluku) diawali dengan terjadinya perkelahian antara salah seorang pemuda Kristen asal Ambon yang bernama J.L, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkot dengan seorang pemuda Islam asal Bugis, NS, penganggur yang sering mabuk-mabukan dan sering melakukan pemalakan (istilah Ambon "patah" ) khususnya terhadap setiap sopir angkot yang melewati jalur Pasar Mardika Batu Merah. Saat itu tanggal 19 Januari 1999, masih dalam hari raya Idul Fitri (hari kedua), pemuda Bugis NS bersama temannya seorang pemuda Bugis lain bernama T, melakukan pemalakan di Batu Merah terhadap pemuda Kristen J.L selama beberapa kali ketika J.L mengendari angkotnya dari jurusan Mardika Batu Merah. Namun permintaan kedua pemuda Bugis tersebut tidak dilayaninya, karena J.L belum mempunyai uang, mengingat belum ada penumpang yang dapat diangkutnya, karena hari itu hari raya Idul Fitri. illustrasi Permintaan dengan desakan yang sama dilakukan oleh pemuda NS hingga kali yang ketiga saat pemuda Ambon J.L berada di terminal Batu Merah, malah pemuda Bugis NS tidak segan-segan mengeluarkan badiknya untuk menikam pemuda Ambon J.L. Untunglah J.L sempat menangkisnya dengan mendorong pintu mobilnya. Merasa dirinya terancam, pemuda J.L langsung pulang ke rumahnya mengambil parang (golok) dan kembali ke terminal Batu Merah. Disana ia masih menemukan pemuda Bugis NS bersama temannya T. Ia kemudian memburunya, dan NS kemudian berlari masuk ke kompleks pasar Desa Batu Merah. NS kemudian ditahan oleh warga Batu Merah, dan ketika ia ditanya apa permaslahannya, maka ia (NS) menjawab bahwa, "ia akan dibunuh oleh orang Kristen". Beberapa saat berselang atau sekitar 5 menit setelah peristiwa saling kejar-mengejar antara pemuda Muslim asal Bugis, NS dengan pemuda Kristen asal Ambon J.L, seperti ada komando, kerusuhan akhirnya pecah dimana-mana dalam kota Ambon. Kira-kira jam 15.00 WIT ratusan masa Muslim muncul dari Desa Batu Merah (lokasi dimana pemuda Bugis NS dikejar dan berteriak akan dibunuh oleh oleh orang Kristen) bangkit menyerang warga Kristen di kawasan Mardika (tetangga desa Batu merah) dengan menggunakan berbagai alat tajam (parang, panah, tombak dan lain-lain) dengan seragam dan berikat kepala putih. Mereka sempat melukai, merusak dan mebakar rumah-rumah warga Kristen Mardika. Demikian juga pada waktu yang bersamaan, beberapa lokasi pemukiman Kristen seperti Galunggung, Tanah Rata, Kampung Ohiu, Silale dan Waihaong ikut diserang oleh kelompok penyerang Muslim. Beberapa orang warga Kristen terbunuh, ratusan rumah dibakar dan sebuah gereja yang terletak di kawasan Silale dirusak dan akhirnya dibakar oleh masa. Dari lokasi-lokasi ini, kerusuhan berlanjut terus dan hanya berbeda waktu beberapa menit dari lokasi ke lokasi yang lain. Warga Kristen yang mendiami lokasi Batu Gantung , Kudamati dan sekitarnya setelah mendengar penyerangan yang dilakukan oleh masa Muslim terhadap warga Kristen di Mardika, Galunggung, Kampung Ohiu, Waihaong dan Silale serta mendengar isu gereja Silale telah terbakar, bangkit amarahnya dan memberikan serangan balasan terhadap warga Muslim melalui pengrusakan dan pembakaran rumah-rumah di kawasan Batu Gantung dan Kompleks Pohon Beringin, serta melakukan pengrusakan dan pembakaran terhadap berbagai kendaraan seperti becak, sepeda motor dan mobil. Beberapa lokasi di dalam wilayah kota Ambon terus berkecamuk. Di lokasi Pohon Puleh, Tugu Trikora dan Anthony Rhebok hingga tengah malam tanggal 19 januari 1999, terlihat masa diantara kedua kubu saling berhadap-hadapan dan mencoba untuk saling melakukan penyerangan dengan pelemparan batu yang diteruskan dengan pengrusakan dan pembakaran sejumlah rumah diantara kedua belah pihak, pembakaran kendaraan (becak, sepeda motor dan mobil) dan pembakaran sebuah sekolah Al Hilal di Jl. Anthony Rhebok. Sementara itu di kawasan Batu Merah Tanjung yang dihuni oleh mayoritas warga Muslim, terjadi pengrusakan, pembakaran terhadap rumah-rumah dan pembantaian terhadap beberapa warga Kristen. Di lokasi inipun sebuah gereja sempat dirusak kemudian dibakar oleh masa Muslim. Sedangkan di lokasi Puleh (Karang Panjang) warga Kristen sempat merusak dan membakar rumah-rumah warga Muslim, demikian juga sebuah mesjid yang terletak di lokasi ini. Menjelang pagi hari tanggal 20 Januari 1999, terjadi penyerangan secara besar-besaran yang dilakukan oleh warga Kristen terhadap kompleks Pasar Gambus, kompleks Pasar Mardika dan kompleks Pasar Pelita yang berada di tengah-tengah jantung kota. Penyerangan ini dimulai dengan kosentrasi masa Muslim disekitar Jl. A. J. Patty menuju ke lapangan Merdeka Ambon yang diduga akan melakukan penyerangan ke gereja Maranatha (gereja Pusat Ambon). Masa Kristen yang berada di sekitar kompleks gereja Maranatha merasa terancam, akhirnya melakukan penyerangan ke lokasi tersebut yang merupakan daerah yang mayoritas dihuni oleh warga muslim dengan jalan membakar habis kompleks tersebut. Diperkirakan banyak korban yang meninggal, karena terjebak kebakaran yang hingga saat ini sulit teridentifikasi. Pecahnya kerusuhan Ambon tanggal 19 Januari 1999 akhirnya melebar keluar kota Ambon. Pada tanggal 20 Januari 1999, kira-kira jam 09.00 WIT, warga Muslim jazirah Leihitu yang terletak bagian barat dan utara Pulau Ambon mulai bergerak dengan sasaran menuju kota Ambon. Menurut data yang ditemukan di lapangan , tujuan mereka bergerak menuju kota Ambon karena adanya isu bahwa mesjid Al-Fatah di kota Ambon telah dibakar oleh orang-orang Kristen. Selain itu juga ada data yang mengungkapkan bahwa tujuan mereka ke Ambon adalah dalam rangka silahturahmi berkenan dengan hari raya idul fitri. Ketika mereka mulai bergerak pada tanggal 20 Januari 1999, sedikitnya ada 3 pasukan penyerang. Pasukan pertama terdiri dari warga Muslim desa Hitu, Mamala, Morela dan sebagian lagi warga Desa Wakal yang melakukan penghancuran terhadap warga Desa/Dusun Kristen Telaga Kodok, Benteng Karang, Hunuth/Durian Patah, Waiheru, Nania dan Negeri Lama. warning dp pict Menurut data yang peroleh di lapangan beberapa saat setelah terjadi penyerangan dan pembantaian pasukan pertama dan pasukan kedua di lokasi-lokasi yang disebut di atas, warga Desa Hila Islam menyerang dan membumi hanguskan Dusun Hila Kristen yang sebenarnya dari segi adat istiadat dan budaya masih mempunyai hubungan keluarga. Penyerangan ini mengakibatkan seluruh rumah-rumah warga Kristen di Dusun ini terbakar termasuk 1 (satu) buah Gereja tua yang mempunyai nilai sejarah, 1 (satu) orang dibunuh dan dibakar serta 2 (dua) orang lainnya mengalami luku-luka. Warga Kristen Dusun ini terpaksa harus mengungsi dengan berjalan kaki melewati gunung (ada yang sampai dua hari perjalanan untuk tiba ditempat pengungsian yaitu Desa Hative Besar).v Dalam perjalanan pengungsian ini mereka juga ditolong saudara-saudaranya dari Desa Kaitetu yang beragama Muslim. Kerusuhan demi kerusuhan di Pulau Ambon pada akhirnya bersangkut paut dengan sikap toleransi warga yang berdomesili di Pulau Ambon. Sementara isu pertikaian yang bernuasa SARA semakin dipertajam sehingga menimbulkan panatisme antara masing-masing umat beragama. Berkenaan dengan itu maka pada tanggal 21 Januari 1999 warga Kristen yang berdomisili di Batu Gajah Dalam mendengar terbunuhnya 2 (dua) orang pendeta dan pembakaraan beberapa buah gereja dalam penyerangan yang dilakukan oleh warga Muslim dari jasirah Leihitu kemudian bangkit menyerang warga Muslim Dusun Batu Bulan dan membantai sejumlah warganya. Dari data di lapangan terungkap 150 buah rumah dibakar/dirusak, 5 (lima) orang dibunuh dan 1 (satu) buah Mesjid terbakar. Demikian juga pada tanggal yang sama warga Kristen yang berdomesili di Batu Gantung Dalam (Kampung Ganemo), Mangga Dua, Kudamati ikut melakukan penyerangan terhadap warga Muslim yang berada di sekitarnya. Dalam penyerangan ini 8 (delapan) orang meninggal dunia.. 5 (lima) orang warga Muslim diantaranya dibantai kemudian dibakar bersama mobil truk yang mengangkutnya di kawasan Mangga Dua karena diduga sebagai propokator dan membawa bahan peledak. Sementara itu di kawasan Desa Hative Besar Kotamadya Ambon terjadi penyerangan dari warga Muslim asal Buton, Bugis dan Makasar dari Dusun Wailete yang berada di bawah wilayah Desa Hative Besar yang mengakibatkan puluhan rumah warga Kristen Desa Hative Besar terbakar. Peristiwa ini selain dipicu oleh dampak kerusuhan Ambon tanggal 19 Januari 1999, juga diakibatkan oleh dendam lama yaitu peristiwa kerusuhan yang terjadi pada bulan Nopermber 1998. Tindakan penyerangan warga Dusun Wailete tersebut dibalas oleh warga Kristen Desa Hative Besar yang membakar habis lokasi pemukiman mereka. Akibat Peristiwa ini ratusan rumah terbakar dan 4 (empat) orang Warga Muslim Meninggal, 1 buah Mesjid dan 1 buah Mushola terbakar. sbrnya masi panjang kronologisnya, tp terpaksa saya cutdisini.     Analisa Fakta-fakta di lapangan seperti mudahnya konsentrasi massa terjadi dalam jumlah yang masive di berbagai tempat dalam waktu yang bersamaan, rangkaian peristiwa yang begitu cepat dari satu tempat ke tempat-tampat lain dengan isue-isue yang provokatif, bahkan peritiwa tangggal 19 Januari yang mengawali kerusuhan lanjutan pada keesokan harinya terjadi di tempat yang berbeda dalam tempo yang hampir bersamaan, membuat kita jadi patut bertanya apakah peristiwa-peristiwa tersebut merupakan rangkaian kejadian terencana ? Peristiwa Ambon sebagai suatu rangkaian peristiwa dapat dilihat dari tiga tahapan sebagai berikut :   I. Prakondisi Pertentangan antar kelompok yang melibatkan sentimen agama sebagai isu berakibat pada meletusnya kerusushan pada tanggal 19 hingga 23 Januari 1999. Sebagai suatu kondisi psikologis maupun yang pernah mengemuka menjadi konflik terbuka antar kelompok agama memang realitas yamg rupanya telah lama terdapat di dalam masyarakat. Bukti-bukti untuk hal ini adalah kejadian-kejadian yang sebelum peristiwa kerusuhan bulan Januari ini terjadi. Yakni misalnya pertikaian yang terjadi pada tanggal 3 Maret 1995 antar warga desa Kelang Asaude dan warga desa Tumalehu, peristiwa serupa terjadi juga pada tanggal 21 Februari 1996. Fakta-fakta tersebut di atas menujukan bahwa dari kondisi obyektif menunjukan adanya konflik yang bersifat lokal dan sesekali menjadi suatu pertentangan terbuka. Situasi inilah yang juga mulai nampak dimainkan dan mengemuka pada masa mendekati waktu kerusuhan terjadi dalam aktivitas-aktivitas sebagai berikut : Pada tanggal 15 Januari di kecamatan Dobo telah terjadi perkelahian antar kelompok yang mengatasnamakan agama. Hal serupa terjadi juga di wilayah Wailete dan Bak Air. pada pertengahan bulan Januari telah berkembang isu konflik antar agama dan bahaya saling menyerang.penyebaran isu melalui beredarnya selebaran di kalangan kelompok-kelompok yang bertikai.selebaran berisi berbagai informasi yang mempertajam sentimen agama. adanya mobilisasi kelompok-kelompok massa tertentu dari luar daerah Ambon menjelang dan ketika kerusuhan.   II. Peristiwa Kerusuhan Tanggal 19-23 Januari Kerusuhan dicetus (trigering factor) ditiga wilayah sekaligus : Simpang Tiga antara Batu Merah-Amantelu dan Galunggung, Jalan depan Gereja Silo dandaerah Rajali. Peristiwa perkelahian antara seorang sopir dan preman di Simpang Tiga antara Batu Merah, Amantelu dan Galunggung justru adalah sebuah peristiwa yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang secara sangat cepat berubah menjadi pertikaian antar kelompok agama.Pada saat yang sama ditempat yang berbeda-beda, ternyata konsentrasi massa terjadi pula dengan isu pertikaian agama, dan dugaan akan terjadinya penyerangan oleh kelompok lain, seperti dikalangan Kristen beredar isu bahwa ada sebuah gereja dibakar, sementara dikalangan Islam juga telah beredar bahwa masjid Al-Fatah juga telah dibakar. Padahal, pada saat itu apa yang diberitakan tersebut tidak terjadi kebakaran pada obyek yang disebutkan. Kerusuhan tanggal 19 Januari terjadi begitu cepat dan menyebar dalam konsentrasi massa dalam jumlah yang cukup besar di beberapa tempat antara pukul 15.30-16.45 WITA. Konsentrasi massa dalam jumlah besar berada di Silo dengan lima sampai enam ribu orang, akibat isu akan memperoleh serangan dan telah terhadi pembakaran gereja, sehingga harus merespon dan mempertahankan diri. Dalam jumlah yang cukup besar terjadi pula di daerah Mahardika, Rijali, Waringin, Kudamati, AR .Sarobar, Way Haung dan beberapa tempat lain. Massa juga berkonsentrasi untuk mengajukan konvirmasi isu penyerangantempat beribadah tersebut. Konsentrasi itu, berubah secara mendadak menjadi kerusuhan, berupa perusakan dan penyerangan antar kelompok terjadi dengan lokasi di berbagai tempat di hampir seluruh kota Ambon. Perusakan atau pembakaran mengarah pada tempat-tempat ibadah baik masjid maupun gereja, rumah-rumah penduduk dan pertokoan serta pasar. Tanggal 20 Januari, berkembang isu masjid AL-Fatah terbakar. Hal itu berakibat reaksi massa dari Hila secara serentak berjalan menuju kota Ambon dan terseret ke dalam kerusuhan dan penyerangan. Beberapa laporan menunjukan adanya kelompok asing mempengaruhi akselerasi massa dengan bantuan alat komunikasi berupa HT dan handphone serta membawa senjata api. Aparat melakukan reaksi yang sama terjadi sebagaimana pada sebelumnya. Perusakan dilakukan secara bergelombang oleh kelompok-kelompok massa dengan para pemimpinnya yang mengorganisasi gerak massa maupun memprovokasinya dengan memanfaatkan sentimen agama dan suku. Yang aneh dalam provokasi tersebut terdapat kata-kata dan istilah yang tidak lazim digunakan di Ambon, seperti sebutan nasrani dan bukan nasrani, atau bahkan selebaran dengan bahasa Arab yang ditulis dengan tidak benar, grafiti yang ditinggalkan dalam aksi perusakan yang tidak lazim atau janggal untuk masyarakat Ambon, dan lain-lain.     III. Kejanggalan-kejanggalan dalam Kerusuhan Ambon Kerusakan total hampir terjadi di setiap sudut kota Ambon. Namun dari sinipun terlihat beberapa hal yang janggal : yakni, rupanya pada saat kerusuhan terjadi telah dilakukan pemilihan sasran perusakan maupun pembakaran. Hal ini terbukti dari adanya beberapa bangunan seperti Swalayan Matahari yang utuh tak tersentuh perusuh, sementara hampirseluruh bangunan disekelilingnya rusak total. Hal sejenis terjadi di pertokoan-pertokoan tertentu lainnya.   Slebaran-slebaran dan adu domba. Pada tanggal 2 Februari ini slebaran yang menyatakan adanya isu pertentangan kembali muncul. Di kalangan Islam beredar isu akan adanya Kristenisasi, sedangkan dikalangan Kristen beredar isu akan adanya serangan balasan. Ditengah situasi demikian, lima orang menteri termasuk Menhankam/Pangab Jendral Wiranto melakukan kunjungan ke Ambon dan mengajak pada semua pihak untuk menyelesaikan masalah. Namun demikiaan upaya pengungkapan kasus dan penangan terhadap paska kerusuhan ini pun masih terasa lamban. Ditambah pernyataan dari pihak keamanan yang tidak secara transparan memberikan klarifikasi sehingga kini masih menyisakan banyak pertanyaan mengenai peristiwa berdarah tersebut.   Pemindahan dan penarikan pos penjagaan Kariu oleh pihak keamanan yang dilanjutkan dengan pembakaran. Tanggal 13 Januari 1999 terjadi peristiwa yang bermula dari suatu kejanggalan dengan dicabutnya sebuah pos penjagaan di desa Kariu oleh seorang Komandan Regu Kostrad bernama S. Dan dipindahkan ke dusun Nanaca. Sebelumnya, telah pula terjadi beberapa keanehan dengan dilarangnya warga Kariu masuk ke daerah Kailolo, dan ini diketahui oleh aparat keamanan. Tanggal 14 Februari , sekitar pukul 03.00 WITA listrik di desa Kariu padam dan sekitar pukul 03.00 WITA ada rumah masyarakat Kariu dibakar. Posisi rumah yang pertama di bakar itu ada di Pilou dan Kariu. Sekitar pukul 06.00 WITA desa Kariu diserang oleh kelompok Islam dari desa Kariu, Ori, dan delapan desa Islam di sekitarnya. Pada saat penyerangan, pihak aparat yang dipimpin oleh Danru S ikut serta dengan mencopot seragam dan menggantikannya dengan pakaian sipil dengan sorban putih. Pada senjata mereka pun diikat dengan kain putih. Sekitar jam 08.00 tanggal 14 Februari, masyarakat Hulaliu melihat adanya asap kebakaran di desa Kariu dan mereka bermaksud datang untukmenolong. Namun diperbatasan desa Ori mereka dihadang oleh pasukan dari Kostrad yang telah membentuk formasi untuk mengepung dan mengembalikan mereka ke Halaliu. Hasil dari peristiwa ini, pukul 15.00 WITA gereja GPM dibakar massa, padahal gereja ini mereka titipkan kepada aparat keamanan dalam keadaan masih utuh. Di desa Kariu 2 gereja juga habis terbakar     Fakta korban Laporan yang diterima juga menyiratkan gambaran yang aneh mengenai korban kerusuhan, seperti yang terjadi dalam peristiwa Waruku didesa Hulaliu, dari 12 korban yang meninggal 10 diantaranya diakibatkan oleh luka tembak termasuk sejumlah permpuan, 1 orang luka panah dan satu orang terbakar. Begitupun jenis luka, dari 34 korban luka, 24 diantaranya adalah luka tembak, 3 luka akibat bom, 4 akibat panah dan akibat potong. Sumber : kaskus.co.id/thread/kerusuhan-kerusuhan-sipil-di-indonesia

 

 

Step By Step Belajar HTML 5

 

 

Artikel Lainnya :